PT Best Profit Futures Surabaya

Yield Obligasi AS Tembus 3%, RI Ditinggal Investor

PT Bestprofit
PT BESTPROFIT FUTURES Imbal hasil (yield) obligasi negara belum berhenti naik. Hari ini, yield Surat Berharga Negara (SBN) menyentuh titik tertingginya sejak akhir Maret 2018.

Pada Selasa (24/4/2018), yield SBN seri acuan tenor 10 tahun berada di 6,892%. Naik dibandingkan posisi sehari sebelumnya di 6,852%. Yield hari ini merupakan yang tertinggi sejak akhir Maret. PT BESTPROFIT

Yield Obligasi AS Tembus 3%, RI Ditinggal InvestorReuters

Yield mulai bergerak naik sejak 13 April. Awalnya, kenaikan yield didorong oleh perpindahan dana ke pasar saham. BESTPROFIT

Namun sejak awal pekan ini, tekanan di pasar SBN datang dari sebab yang berbeda. Kali ini episentrumnya berasal dari Amerika Serikat (AS). BEST PROFIT

Wall Street sempat mengalami periode reli, setelah meredanya perang dagang dan konflik Suriah serta kinerja emiten yang positif. Risk appetite investor muncul, dan instrumen fixed income seperti obligasi ditinggalkan untuk mencari instrumen berisiko yang menjanjikan untung lebih besar.

Kala pasar obligasi ditinggalkan, harga pun jatuh. Penurunan harga obligasi pasti menyebabkan kenaikan yield.

Setelah perlahan naik, akhirnya yield obligasi negara AS tenor 10 tahun menembus 3%. Kemarin, yield obligasi AS tenor 10 tahun mencapai 3,095%. Ini merupakan titik tertinggi sejak akhir 2013.

Yield Obligasi AS Tembus 3%, RI Ditinggal InvestorReuters
Pada satu titik, investor menilai yield obligasi AS yang terus naik menjadi enak dipandang mata. Akhirnya aliran dana pun menuju ke AS untuk membeli obligasi pemerintah Negeri Paman Sam.

Yield obligasi negara AS 10 tahun di level 3% merupakan level psikologis di pasar. Tingginya permintaan membuat harga obligasi negara AS naik dan yield pun bergerak turun. Saat ini, yield instrumen tersebut berada di 3,083%.

Namun, yield yang masih berada di level 3% itu masih menarik di mata investor. Dampaknya, SBN pun kehilangan peminat, terutama dari investor asing.

Per 20 April, nilai kepemilikan asing di SBN tercatat Rp 869,8 triliun. Turun dibandingkan awal terjadinya tekanan di pasar, yaitu 13 April, yang masih sebesar Rp 873,28 triliun.

Sumber : Detik