PT Best Profit Futures Surabaya

Waspada, Dolar AS Makin Dekati Posisi Krismon 1998

PT Bestprofit
PT BESTPROFIT FUTURES Waspada adalah kata yang kerap terlontar dari para penjaga rupiah setiap kali memberikan tanggapan terhadap ‘mengamuknya’

dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. Level penguatan dolar AS yang telah mencapai posisi tertingginya sejak 20 tahun terakhir membuat Indonesia harus lebih serius menangani rupiah.

“Kita perlu tetap hati-hati karena lingkungan yang kita hadapi sangat berbeda dengan 2015, 2015 waktu itu quantitative easing masih terjadi dan kenaikan suku bunga belum dilakukan baru diungkapkan, PT BESTPROFIT

kalau sekarang suku bunga sudah naik secara global dan quantitative easing sudah mulai dikurangi, dan inilah yang menyebabkan tekanan

lebih kuat terhadap berbagai mata uang di dunia,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beberapa waktu lalu. BESTPROFIT

Sementara Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menjelaskan pihaknya akan fokus agar defisit transaksi berjalan dan inflasi tetap terjaga. Dua hal ini diyakini jadi sentimen yang tengah diperhatikan investor di tengah kondisi global yang sedang bergejolak. BEST PROFIT

“Kita tentu tetap memonitor, kita tetap harus waspada juga karena memang ya apa yang terjadi dengan kebijakan pemerintah Amerika ini berdampak ke negara emerging market,” ujar dia.

Nilai tukar dolar AS pada awal pekan ini menunjukkan volatilitas yang cukup agresif. Meski sempat menjinak pada awal pembukaan perdagangan,

namun menuju sore hari dolar AS terus ‘mengamuk’ hingga kembali mencapai level tertingginya di angka Rp 14.849 (pukul 10.30 WIB).

Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah pun menyiapkan strategi untuk bersinergi menahan gempuran dari sentimen menguatnya dolar AS. Bagaimana pergerakan dolar AS hingga mencapai posisi tertingginya dalam 20 tahun terakhir?

Pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pada pagi hari kemarin berada di level Rp 14.735-14.760. Angka tersebut turun dari posisi akhir pekan lalu yang sempat menyentuh level Rp 14.884.

Dolar AS sendiri tercatat telah menekan rupiah setidaknya 11,7% pada sepanjang tahun ini (year to date). Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mewakili kalangan pengusaha mengaku sudah memprediksikan kondisi ini.

“Kami sudah ekspektasi dan buat perkiraan. Jadi ini bukanlah suatu hal yang mengejutkan karena kita sudah antisipasi,” kata Rosan.

Sementara ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjelaskan gejolak nilai tukar yang terjadi hanya sentimen sementara.

Tapi pelemahan rupiah sendiri diprediksi baru berakhir jika normalisasi kebijakan suku bunga The Fed berakhir dan kinerja ekonomi domestik khususnya neraca perdagangan membaik.

Nilai tukar rupiah bahkan berpotensi menembus level psikologis baru karena dipicu dari faktor domestik defisit neraca perdagangan dan sentimen proteksi dagang serta fluktuasi harga komoditas.

Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah akhirnya kembali menguat pada siang hari. Dolar AS menguat ke angka Rp 14.825 ataiu naik dari posisi Rp 14.760 pada pagi hari.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan penyebab pelemahan nilai tukar rupiah ini adalah faktor eksternal yakni normalisasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Kondisi pelemahan rupiah diproyeksi baru berakhir jika normalisasi kebijakan suku bunga The Fed berakhir dan kinerja ekonomi domestik khususnya neraca perdagangan membaik.

“Ada potensi pelemahan nilai rupiah bahkan menembus level psikologis 15.000,” ujar Bhima.

Mata uang rupiah sensiri sudah tertekan sebanyak 1.563 poin (11,6%) terhadap dolar AS terhitung sejak awal tahun hingga saat ini (year to date).

Fakta tersebut membuat rupiah pada tahun ini menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di Asia. Hal itu didorong dengan defisit transaksi berjalan hingga krisis lira Turki yang mengakibatkan kekacauan di pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Sumber : Detik