PT Best Profit Futures Surabaya

Tidak Perlu Panik, Ekonomi Kita Kuat

Best Profit Futures –  Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah menembus Rp 12.000 per dolar AS. Pada penutupan kemarin rupiah berada di level Rp 11.969 per dolar AS.

Ada dua faktor yang menjadi penyebab rupiah melemah dalam beberapa hari ini. Pertama, sinyal dari the Federal Reserve atau bank sentral AS (the Fed) yang akan akan menaikkan suku bunga acuan, Fed Fund Rate. Kedua, dolar AS banyak dibutuhkan untuk membayar utang luar negeri di akhir triwulan III 2014.

Hasil keputusan rapat bank sentral AS (Federal Open Market Commite/FOMC) kemarin sore waktu setempat mengabarkan bahwa the Fed masih mempertahankan kebijakan suku bunga rendah. Meski demikian, the Fed menaikkan estimasi untuk menaikkan Fed Fund Rate setelah pembelian aset obligasi berakhir tahun ini.

Sinyal inilah yang membuat mata uang dolar AS menguat. Sebaliknya, hampir semua mata uang di dunia—termasuk rupiah—tak kuat berhadapan dengan dolar AS. (Best Profit Futures )

Sebenarnya, sinyal the Fed akan menaikkan Fed Fund Rate sudah disampaikan oleh Gubernur the Fed Janet Yellen beberapa bulan lalu. Saat itu, Yellen menyatakan the Fed akan menaikkan Fed Fund Rate dari 0,25% menjadi 1% pada pertengahan tahun 2015 dan 2,5% di akhir tahun 2016.

Yellen tak hanya bilang bahwa Fed Fund Rate akan naik. Dia juga menegaskan bahwa the Fed akan melanjutkan pemangkasan dana stimulus US$ 10 miliar setiap bulan hingga selesai akhir tahun ini. (Best Profit Futures )

Sinyal the Fed yang akan menaikkan suku bunga acuan semakin menguatkan analisis banyak orang bahwa perekonomian AS mulai membaik. FOMC dalam pertemuan 19 Maret 2014 memprediksi, laju pertumbuhan ekonomi AS tahun ini berkisar 2,8%-3,2% dan tahun 2015 berkisar 3%-3,2%. “Secara umum, ekonomi AS kembali ke level normal,” demikian pernyataan FOMC.

Asal tahu saja, selama resesi 2008, the Fed membeli obligasi negara AS yang membuat banyak negara, termasuk Indonesia, kecipratan dolar. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan suku bunga menjadi rendah sehingga perekonomian AS bisa lebih lincah.

Kebijakan pembelian obligasi besar-besaran ini ternyata membawa hasil. Perekonomian AS perlahan-lahan berangsur pulih, sehingga the Fed memutuskan mengakhiri progam stimulus akhir tahun ini dan akan menaikkan Fed Fund Rate.

Nah, dana-dana yang sebelumnya banyak mengalir ke negara emerging market—termasuk Indonesia—dikhawatirkan akan berbalik arah kembali ke negara asalnya. Penarikan dana ini tentu saja mengancam mata uang negara lain, kecuali negara tersebut punya fundamental ekonomi yang kokoh. (Best Profit Futures )

Lihat saja, selama dua pekan terakhir, dana asing yang sudah ke luar dari lantai bursa Indonesia mencapai Rp 6 triliun. Beberapa hari ke depan, diprediksi dana-dana ini masih terus bergerak ke luar, karena masih ada sekitar Rp 54,3 triliun.

Inilah yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah anjlok.

Hanya saja, melemahnya nilai tukar rupiah bukan semata-mata karena muncul sinyal dari the Fed untuk menaikkan suku bunga acuan. Melemahnya rupiah karena dolar AS banyak dibeli untuk membayar utang luar negeri. Biasanya, menjelang akhir triwulan, berlangsung pembayaran utang luar negeri. (Best Profit Futures )

Namun, keputusan the Fed punya nilai sensitif lebih tinggi bagi para pelaku pasar uang dan pasar modal. Banyak analis memprediksi, kepanikan masih akan terjadi pada beberapa hari ke depan. “Tapi sifatnya sementara. Indonesia masih tetap menarik untuk menyimpan uang,” kata seorang analis pasar uang.

Tak salah, memang. Bayangkan, imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Indonesia berjangka waktu 10 dipatok setinggi 8,710%, lebih tiga kali lipat obligasi serupa di AS. Di pasar Asia, yield itu hanya bisa dikalahkan oleh obligasi India, yakni 8,850%. (Best Profit Futures )

“Jika Anda mencari yield di Asia, pergilah ke Indonesia atau India. Di Indonesia, investor asing lebih mudah masuk pasar,” ujar Cecilia Chan, Chief Investment Officer untuk fixed income di HSBC Global Asset Management, pengelola dana US$ 419 miliar.

Ekonomi Indonesia juga masih mampu tumbuh 5,3% di semester I-2014, meskipun kucuran kredit perbankan diperlambat dan likuiditas diperketat. Pertumbuhan sebesar ini merupakan kedua tertinggi di kelompok negara ekonomi terbesar dunia, G20, setelah China.

Jadi, jangan panik. Ekonomi kita kuat, kok.

  (Best Profit Futures )

Sumber dari http://ekonomi.inilah.com