PT Best Profit Futures Surabaya

Sinyal Pasokan Bertambah Bikin Harga Minyak Turun

Best Profit
Best Profit Futures – Harga minyak dunia melemah pada perdagangan awal pekan ini usai Menteri Energi Arab Saudi Khaled Al-Faleh

menyatakan kalau pasar sedang menuju arah keseimbangan seiring melambatnya permintaan di Asia.

Namun sisi lain ada sinyal produksi minyak mentah naik dan kelebihan pasokan bensin.

Best Profit Futures –Harga minyak mentah berjangka jenis Brent turun 25 sen menjadi US$ 50,10 per barel. Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) melemah 23 sen menjadi US$ 48,76 per barel.

Perdagangan diperkirakan tipis seiring pasar Amerika Serikat (AS) tutup untuk memperingati hari kemerdekaan AS.

Sebelumnya menteri Energi Arab Saudi, para eksportir dan Sekretaris Jenderal OPEC sepakat kalau pasar minyak global menuju keseimbangan.

Hal itu tercermin dari harga minyak.

Namun, analis Morgan Stanley menyebutkan kalau ada tanda harga minyak dapat kembali jatuh. Hal ini menunjuk dari permintaan bensin dan produksi lebih banyak dari Kanada dan Nigeria.(Best Profit Futures)

Nigeria Petroleum Corporation menyatakan kalau pihaknya sudah melakukan perbaikan usai penyerangan di Delta Niger

sehingga mendorong produksi minyak ke posisi terendah dalam 30 tahun.

Selain itu, ada kesepakatan menyatakan perusahaan minyak nasional Libya juga membuka jalan bagi anggota OPEC untuk meningkatkan produksi.

“Jika kesepakatan itu terwujud akan memiliki dampak nyata dan besar terhadap keseimbangan pasar minyak pada 2017,” ujar Kepala Riset SEB Market Bjarne Schieldrop

seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa (5/7/2016).(Best Profit Futures)

Di sisi lain, kilang minyak di Asia bersiap untuk pemeliharaan musiman.

Dalam laporan analis Morgan Stanley menilai hal ini juga akan mempengaruhi permintaan dan dan harga minyak.

Selain itu Harga Minyak Dunia Naik 4 Persen

Harga minyak mentah dunia melonjak 4 persen, dengan Brent menetap di atas US$ 50 per barel, setelah terjadi penarikan lebih besar dari perkiraan pada persediaan minyak mentah AS.

Melansir laman Reuters, Kamis (30/6/2016), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup naik US$ 2.03 atau 4,2 persen menjadi US$ 50,61 per barel.

Ini mendekati sesi tertinggi dalam satu minggu di posisi US$ 50,74 per barel.

Indeks minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) juga ditutup naik US$ 2,03 atau 4,2 persen menjadi US$ 49,88 per barel.(Best Profit Futures)

“Selain meningkatkan fundamental pasar, minyak juga ingin menjaga harga di sekitar US$ 50 seperti kita memulai babak kedua,” kata John Kilduff, rekan di New York Energy Hedge Fund Again Capital.

Ini menjadi hari kedua harga minyak kembali bangkit, naik hampir 8 persen sejak banyak pihak dikagetkan dengan keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa.

Kekhawatiran atas apa yang disebut Brexit ini kini mulai memudar,

potensi pemogokan pekerja minyak di Norwegia dan krisis di sektor energi Venezuela ikut mendorong laju harga minyak dunia.

Sementara kontrak di pasar spot minyak mentah Brent dan AS melonjak, karena para pedagang bertaruh soal kondisi stok akan mendorong harga yang lebih baik dalam beberapa bulan mendatang.(Best Profit Futures)

Lembaga Informasi Energi AS melaporkan bahwa stok minyak mentah turun 4,1 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 24 Juni.

Angka ini lebih dari 2,4 juta barel yang diperkirakan analis dalam jajak pendapat Reuters.

“Kami bermain pada kurva yang melebar keluar dan itu baik bagi kita,” kata Tariq Zahir, pedagang minyak mentah Tyche Capital Advisors di New York.(Best Profit Futures)

Sumber : liputan6.com

Simpan