PT Best Profit Futures Surabaya

Rupiah terhantam faktor domestik dan eksternal

BEST PROFIT FUTURES – Rupiah tak kuasa bertahan menghadapi laju dollar AS. Hari ini Selasa (24/6), pasangan USD/IDR di pasar spot naik 0,03% dibanding hari sebelumnya menjadi 11.989. Sementara kurs tengah dollar AS di Bank Indonesia (BI) naik 0,24% dan ditutup di level 12.000.

Reny Eka Putri, analis pasar uang PT Bank Mandiri Tbk menjelaskan, beberapa hari terakhir, rupiah memang sudah mendekati level 12.000 per dollar AS. Pelemahan rupiah ini lebih didominasi oleh faktor eksternal, dimana pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) terus berlangsung sesuai dengan harapan. Bank Sentral As, The Fed melanjutkan komitmennya untuk mengurangi stimulus (tapering). Ditambah lagi, kebutuhan dollar AS pada akhir kuartalan meningkat.

“Rupiah juga terdepresiasi karena ketegangan eskalasi di Irak, dimana saat terjadi konflik, para investor beralih ke safe haven seperti emas dan dollar AS,” ungkap Reny.

Pelemahan rupiah semakin didukung oleh rilis data ekonomi AS pada Senin (23/6) malam. Data tersebut adalah data manufaktur PMI bulan Juni dan penjualan rumah bekas bulan Mei. Manufaktur PMI AS dirilis sebesar 57,5. Angka ini lebih tinggi dibandingkan konsensus sebesar 56,1. Sementara penjualan rumah bekas tercatat 4,89 juta. Angka ini melampaui ekspektasi sebesar 4,74 juta.  (Best Profit Futures)

Tekanan terhadap rupiah, lanjut Reny juga masih membayangi, seiring pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh BI di bawah 5,5%. Meskipun demikian, kondisi rupiah diperkirakan membaik pada akhir tahun. Sebab, defisit neraca transaksi berjalan mulai menyempit pada kuartal III dan IV. Selain itu, ada harapan pemulihan rupiah dengan perbaikan ekspor. Hal ini seiring dengan perbaikan ekonomi AS dan beberapa negara Eropa lainnya yang dapat menumbuhkan permintaan dari Indonesia.

Albertus Chritian, Senior Researcher and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan, faktor penggerus kinerja rupiah dari domestik berasal dari hasil polling calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang semakin ketat. Kondisi ini memberikan ketidakpastian bagi pelaku pasar. Selain itu, masih ada kekhawatiran tingginya inflasi menjelang Ramadhan dan Lebaran.  (Best Profit Futures)

“Di sisi lain, data AS berpotensi menunjukkan pemulihan lebih solid. Dengan demikain, faktor domestik dan ekternal sama-sama mendukung depresiasi rupiah,” terang Christian.

Meski demikian, Christian menduga rupiah mampu bangkit pada akhir tahun. Terlebih jika presiden terpilih sesuai dengan ekspektasi pasar. Hal ini diharapkan mampu mendorong arus capital inflow dan investasi asing lebih deras. Ia menilai, rupiah bisa terapresiasi menuju 11.500 per dollar AS.  (Best Profit Futures)

Namun, dalam perjalanannya, Christian menilai rupiah masih berpeluang melanjutkan tekanan ke level 12.100-12.150. Dengan asumsi bahwa pelaku pasar akan bereaksi menunggu susunan kabinet dari presiden terpilih.

Mika Martumpal, Research and Strategy Head Treasury and Capital Market Bank CIMB Niaga menambahkan, isu pemilihan presiden (pilpres) tidak akan berdampak lama dalam menentukan laju rupiah. Terpilihnya presiden yang sesuai dengan ekspektasi pasar maupun yang tidak hanya akan mengapresiasi atau mendepresiasi rupiah dalam sementara waktu. Selanjutnya, rupiah akan kembali ke fundamental utamanya yakni soal defisit APBN dan defisit neraca berjalan.  (Best Profit Futures)

“Penguatan rupiah berpotensi menuju 11.700. Pelemahannya bisa menuju 12.300. Namun, pergerakan rupiah tidak akan jauh dari level saat ini,” ujar Mika.

Hari ini, Mika menduga USD/IDR bergerak di level 11.700-12.000. Untuk akhir tahun, Mika menilai USD/IDR akan ditutup di level 12.000. Sebab, masalah defisit belum terselesaikan. Reny memperkirakan USD/IDR hari ini berkisar antara 11.910-12.025. Namun, Reny memprediksi target akhir tahun rupiah di level 11.600. Sebab, ada harapan membaiknya defisit neraca berjalan.

Sementara Christian meramal pergerakan USD/IDR hari ini di kisaran 11.920-12.020. Adapun target akhir tahun, Christian memproyeksi rupiah menguat ke level 11.500. Rupiah berpeluang menguat karena ada harapan membaiknya perekonomian AS dan China yang akan meningkatkan permintaan komoditas dari Indonesia. Kondisi ini mendukung laju pertumbuhan ekonomi mendekati 6% pada akhir tahun.

   (Best Profit Futures)

Sumber dari http://investasi.kontan.co.id