PT Best Profit Futures Surabaya

Rupiah Memang Masih Loyo, Tapi Kondisinya Beda dengan 1998

PT Bestprofit
PT BESTPROFIT FUTURES Rupiah tengah tak berdaya melawan dolar Amerika Serikat (AS). Saat ini, dolar masih betah di atas level Rp 14.800.

Penguatan mata uang Paman Sam ini bahkan hampir tak terbendung. Belum lama, dolar AS nyaris menembus level Rp 15.000.

Menguatnya dolar kerap disangkutpautkan dengan krisis. Sebab, secara angka, posisi dolar hampir mirip dengan posisi saat krisis. PT BESTPROFIT

Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi mengibaratkan, rupiah saat ini tergantung dari ‘sawah’ dan ‘irigasi atau air’ nya. Sawah merujuk pada ekonomi Indonesia, sementara air merujuk ke dolar AS. BESTPROFIT

Doddy mengatakan, ekonomi Indonesia masih memerlukan dolar AS, sebab dibutuhkan untuk mengimpor berbagai kebutuhan seperti bahan baku. BEST PROFIT

“Air ini adalah dolar AS, sawah ekonomi kita masih butuh impor, ekonomi yang tingkat pembangunannya masih banyak butuh barang-barang yang tidak dihasilkan sendiri,” kata Doddy dalam Seminar Kemana Arah Rupiah? di DPR Jakarta, Rabu (19/9/2018).

Sementara air atau dolar AS pasokannya terus berkurang dan membuat nilainya terus menguat terhadap rupiah. Berkurangnya dolar ini ada beberapa sebab.

Pertama, adanya normalisasi neraca Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed). Normalisasi ini berimbas pada penarikan dolar yang tersebar di seluruh dunia.

Kedua, pada saat yang sama The Fed menaikkan suku bunga acuan yang membuat dolar AS balik kampung.

“Saat yang sama suku bunga, harga air dijual ke pembeli dinaikkan, jadi dolar dikurangi, harga naik, negara-negara pembeli dolar yang butuh dolar seperti Indonesia menerima sedikit air,” jelasnya.

Tak berhenti di situ, kebijakan pemangkasan pajak alias reformasi pajak (tax reform) yang dilakukan pemerintah AS juga turut serta pada pengurangan pasokan dolar. Sebab, adanya tax reform ini membuat defisit anggaran pemerintah membengkak dan keperluan untuk menambal defisit ini semakin besar.

“Tambahan defisit 5 tahun ke depan sebesar US$ 1,2 triliun kalau Rp 18 ribu triliun, tambahan defisit fiskal AS. Artinya AS akan terus menambah utang di luar baseline,” ujarnya.

“Kalau menerbitkan surat utang segitu artinya dana yang berputar di dunia akan disedot untuk mengurangi defisit,” tambahnya.

Hal itu ditambah juga dengan perang dagang antara AS dan China. Kondisi ini membuat investor mencari instrumen investasi yang aman.

“Aliran air belakangan, salah satunya trade war aliran terganggu, ada ketidakpastian membuat aliran air bolong, bocor, mengalir ke mana-mana,” tutupnya.

Bank Indonesia (BI) menepis kondisi pelemahan rupiah saat ini sama dengan krisis 1998 maupun 2008. Alasannya kondisi ekonomi Indonesia sekarang berbeda jauh saat krisis.

Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi mengatakan meski secara level hampir mirip saat krisis, namun itu tidak bisa dibandingkan.

“Apakah siklus 10 tahun itu akan otomatis berujung krisis hanya gara-gara level nilai tukar sama krisis 98?” kata Doddy dalam Seminar ke Mana Arah Rupiah? di DPR Jakarta, Rabu (19/9/2018).

Menurutnya secara level pelemahan nilai tukar rupiah hampir mirip saat krisis 1998, tapi beberapa indikator ekonomi jauh berbeda. Inflasi saat krisis 1998 mencapai 82%, krisis 2008 inflasinya 12%, sementara tahun ini 3,2%.

“Itu bertahan 3 tahun, itu satu dari sisi stabilitas harga, jauh,” ujar Doddy.

Persentase depresiasi nilai tukar juga jauh. Doddy menjelaskan pada 1998 rupiah melemah sampai 197%, tahun 2008 sebesar 35%, dan pada tahun ini 8,9%.

“Jadi jauh, walaupun level sama tapi depresiasinya jauh beda,” tambah Doddy.

Dari sisi cadangan devisa (cadev) sebagai alat stabilisasi nilai tukar pun jauh beda. Saat ini, cadev Indonesia jauh lebih tinggi.

Pada 1998 cadev Indonesia hanya di kisaran US$ 17 miliar dan tahun 2008 US$ 50 miliar.

“Tahun ini walaupun sudah pakai untuk stabilkan nilai tukar turun, tahun 2017 US$ 132 miliar sekarang masih US$ 117 miliar-118 miliar,” tutupnya.

Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi mengatakan, risiko pelemahan rupiah akan terus terjadi sepanjang transaksi berjalan mengalami defisit. Transaksi berjalan merupakan neraca perdagangan barang dan jasa.

“Depresiasi niscaya akan terus terjadi sepanjang transaksi berjalan kita defisit. Kenapa, transaksi berjalan itu dalam bentuk dolar, untuk biayai defisit tadi,” kata Dody dalam Seminar ke Mana Arah Rupiah? di DPR Jakarta, Rabu (19/9/2018).

Dia mengatakan selama defisit artinya Indonesia kekurangan pasokan dolar. Menurutnya risiko pelemahan akan hilang jika transaksi berjalan surplus.

“Kita akan selalu kekurangan dolar, kita akan selalu berada dalam posisi net beli dolar daripada net supply kalau current account surplus kita akan net supply menghasilkan dolar,” terang Doddy.

“Artinya, sepanjang belum bisa mengembalikan transaksi berjalan surplus maka risiko nilai tukar melemah pasti,” tambahnya.

Menurut Doddy terpenting saat ini menjaga pelemahan rupiah tetap terkendali dan tidak secepat mata uang negara-negara lain.

“Yang penting depresiasi terkendali tidak terlalu cepat sejalan dengan negara lain,” tutupnya.

Sumber : Detik