PT Best Profit Futures Surabaya

Rupiah Masih Menguat, Tapi Wajib Waspada

PT Bestprofit
PT BESTPROFIT FUTURES Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak menguat pagi ini. Namun penguatan rupiah cenderung menipis sehingga greenback mampu kembali ke level Rp 14.605.

Pada Selasa (28/8/2018), US$ 1 dihargai Rp 14.580 kala pembukaan pasar pasar spot. Rupiah menguat 0,24% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Namun tidak lama setelah pembukaan pasar, dolar AS menipiskan pelemahannya. Pada pukul 08:10 WIB, US$ 1 berada di Rp 14.595 di mana apresiasi rupiah menjadi 0,14%. PT BESTPROFIT

Kemudian pada pukul 08:23 WIB, penguatan rupiah kembali menipis menjadi 0,07%. Kali ini US$ 1 dibanderol Rp 14.605. BESTPROFIT

Kemarin, rupiah mampu ditutup menguat 0,15%. Sejauh ini, rupiah masih mampu mempertahankan penguatan yang terjadi kemarin meski masih terlalu pagi untuk mengatakan angin segar ini bisa bertahan sampai penutupan pasar. BEST PROFIT

Pasalnya, dolar AS cenderung menguat di Asia. Greenback yang kemarin jadi bulan-bulanan di Benua Kuning kini mulai menjalankan misi balas dendam.

Selain rupiah, hanya ringgit Malaysia dan baht Thailand yang mampu menguat. Sementara mata uang utama Asia lainnya tidak berdaya menghadapi dolar AS. Oleh karena itu, rupiah tetap harus waspada karena amukan dolar AS bisa dirasakan kapan saja.

Berikut perkembangan nilai tukar mata uang utama Asia terhadap dolar AS pada pukul 08:14 WIB:

Mata Uang Bid Terakhir Perubahan (%)
Yen Jepang 111.22 (0.13)
Yuan China 6.81 (0.17)
Won Korea Selatan 1,110.10 (0.21)
Dolar Taiwan 30.69 (0.09)
Dolar Hong Kong 7.85 0.00
Rupee India 70.16 (0.29)
Ringgit Malaysia 4.09 0.10
Dolar Singapura 1.36 (0.01)

Dolar AS Terbeban Damai Dagang

Dollar Index (yang mengukur posisi greenback secara relatif di hadapan enam mata uang utama) sebenarnya masih melemah 0,04% pada pukul 08:17 WIB. Namun pelemahan indeks ini sudah jauh menipis, karena malam tadi sempat mencapai minus 0,46%.

Pemberat laju dolar AS hari ini adalah tercapainya kesepakatan dagang AS-Meksiko dalam pembaruan kerangka Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). Presiden AS Donald Trump memang lebih menyukai jalur bilateral ketimbang multilateral. Dia lebih memilih mendatangi satu negara demi satu negara untuk mendapatkan kesepakatan daripada harus berdiskusi dan berdebat dengan banyak negara dalam satu forum.

“Saya lebih suka bilateral. Saya pikir itu lebih baik bagi negara kami,” ujar Trump beberapa waktu lalu, dikutip dari Reuters.

Salah satu poin kesepakatan AS-Meksiko adalah di sektor otomotif. Kandungan dalam negeri dalam produk otomotif dinaikkan dari 62,5% menjadi 75%. Ini akan menggairahkan produksi otomotif di kedua negara.

Setelah sepakat dengan Meksiko, AS dikabarkan akan segera duduk bersama dengan Kanada. Jika Kanada tidak sepakat, maka Trump mengancam akan mengenakan bea masuk bagi mobil-mobil buatan Negeri Daun Maple.

“Saya rasa kalau dengan Kanada yang paling gampang adalah mengenakan bea masuk bagi mobil-mobil mereka. Itu uang yang sangat besar, jadi negosiasinya mudah. Bisa diselesaikan dalam sehari, dan kami bisa mendapat keuntungan,” kata Trump, mengutip Reuters.

Pihak Kanada sendiri siap bernegosiasi dengan AS. “Kanada akan bergabung di dalam diskusi isu bilateral maupun trilateral. Kami senang melakukannya, apalagi saat isu bilateral Meksiko-AS telah selesai,” kata Chrystia Freeland, Menteri Luar Negeri Kanada, dikutip dari Reuters.

Perang dagang adalah sebuah isu besar yang bisa mempengaruhi laju perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati setiap perkembangannya.

Saat ini dinamika perdagangan cenderung damai, tidak ada perang. Oleh karena itu, investor bisa mengembuskan nafas lega dan kembali berburu aset. Bahkan aset-aset berisiko di negara berkembang pun bisa menjadi pilihan.

Jika investor global benar-benar masuk ke pasar negara berkembang, maka Indonesia bisa menjadi salah satu pilihan. Ini bisa menjadi modal untuk penguatan rupiah lebih lanjut.

Namun dengan pelemahan dolar AS yang sudah cukup tajam justru membuat mata uang ini menjadi menarik karena harganya kian terjangkau. Akibatnya, aksi buru dolar AS kembali terjadi sehingga perlahan tapi pasti nilainya kembali menguat. Koreksi Dollar Index semakin menipis, dan greenback bahkan sudah menguat terhadap mayoritas mata uang utama Asia.

Rupiah harus waspada, karena apresiasinya semakin tipis. Bukan tidak mungkin rupiah nantinya ikut melemah karena amukan mata uang Negeri Adidaya.

Sumber : Detik