PT Best Profit Futures Surabaya

RI Batal Tambah Utang dalam Mata Uang Yen

Best Profit Futures – Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan pemerintah batal menerbitkan obligasi dalam mata uang yen Jepang (Samurai Bond) pada tahun ini. “Mekanisme anggarannya belum ketemu. Kami harus tahu garansinya, jadi enggak diterbitkan,” kata Robert ketika ditemui, Rabu, 16 Juli 2014.

Meski demikian, kata Robert, pemerintah masih melakukan negoisasi agar dapat menerbitkan Samurai Bond pada tahun depan. Untuk menutupi pembiayaan tahun ini, pemerintah hanya mengandalkan sukuk global dan eurobond. Namun, ia enggan menyebut berapa rincian angka kedua surat utang tersebut. “Itu enggak boleh ketahuan,” ujarnya.

Awalnya Samurai Bond disiapkan sebagai salah satu instrumen untuk menutup pembiayaan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Mei lalu, Robert sempat memprediksi defisit anggaran melebar dari target yang ditetapkan dalam APBN 2014, yakni sebesar 1,69 persen terhadap produk domestik bruto. Pada 2012 lalu pemerintah telah menerbitkan samurai bond.

Menteri keuangan Chatib Basri enggan mengomentari rencana penerbitan Samurai Bond ini. “Tanya Pak Robert, bagaimana kelanjutan rencana Samurai Bond itu,” katanya.   (Best Profit Futures)

Adapun Wakil Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro mengatakan penerbitan obligasi oleh pemerintah sudah mencukupi untuk kebutuhan anggaran tahun ini. “Enggak semuanya harus kami terbitkan. Kalau sudah sesuai kebutuhan ya cukuplah,” ujar Bambang. Pada 2 Juli lalu, pemerintah meluncurkan Surat Utang Negara berdenominasi euro alias eurobond senilai 1 miliar euro dengan imbal hasil 2,9 persen.

Menurut Bambang, penerbitan obligasi tidak harus dilakukan secara berkelanjutan tiap tahunnya. Pemerintah, kata dia, berencana menerbitkan Samurai Bond dalam satu hingga dua tahun mendatang.

    (Best Profit Futures)

industri jasa Amerika berkembang kurang dari yang diproyeksikan pada bulan Oktober, konsisten dengan pertumbuhan yang sedang pada sebagian besar perekonomian.

Indeks Institute for Supply Management™s non-manufacturing turun ke 54,8 dari 57,1 pada bulan sebelumnya atau yang terkuat dalam hampir setahun, menurut laporan kelompok yang berbasis di Tempe, Arizona, Kamis ini. Angka diatas 50 menandakan ekspansi. Perkiraan rata-rata dalam survei Bloomberg menyebutkan angka 56.

Perlambatan dalam pesanan dan tenaga kerja berkontribusi pada hasil yang lebih lemah bagi produsen jasa, yang menyumbang sekitar 90 persen dari perekonomian. Bersama-sama dengan survei pabrik ISM menunjukkan manufaktur berjuang untuk mendapatkan daya tariknya, angka tersebut menggarisbawahi perkiraan pertumbuhan ekonomi yang lebih terukur pada kuartal keempat.

Perkiraan ekonom dalam survei Bloomberg berkisar diantara 53,5-57,4. Perkiraan terbaru ini sejalan dengan rata-rata angka 54,5 untuk sembilan bulan pertama tahun ini.   (Best Profit Futures)

Survei kelompok non-manufaktur ISM meliputi berbagai industri termasuk utilitas, ritel dan perawatan kesehatan, dan juga faktor-faktor dalam konstruksi dan pertanian.

Indeks pesanan baru jatuh ke 57,7 dari 60, sedangkan Indeks tenaga kerja menurun menjadi 53,1 dari 57,2.

Indeks aktivitas bisnis, yang sejajar dengan indeks produksi pabrik ISM, juga turun menjadi 57,7 dari bulan sebelumnya yang 60,3.

Dalam sebuah tanda bahwa inflasi meningkat, indeks kelompok dari harga yang dibayar naik ke 56,6, tertingginya sejak Agustus 2014, dari 54.   (Best Profit Futures)

Sumber dari http://www.tempo.co