PT Best Profit Futures Surabaya

PT Pindad Minta Tambahan Modal Rp700 Miliar

BEST PROFIT FUTURES SURABAYA – Perusahaan pelat merah di bidang produsen peluru, PT Pindad (Persero) meminta Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada pemerintah pada tahun 2015.

Besaran investasi ini untuk mengembangkan bisnis serta memperkuat industri pertahanan dalam negeri. (BEST PROFIT FUTURES)

Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Pindad Silmy Karim usai acara serah terima jabatan di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (22/12/2014).

“Kita mengajukan PMN itu sebesar Rp700 miliar. Di dalam APBN-Perubahan 2015,” kata Silmy.(BEST PROFIT FUTURES)

Penambahan modal ini sudah diajukan kepada pihak Kementerian BUMN serta Kementerian Keuangan. Untuk detilnya akan disampaikan lebih lanjut.

“Tanya ibu Menteri atau deputi. Sudah masuk tinggal proses,” imbuhnya.

Menurut Silmy, penambahan model ini untuk modernisasi peralatan yang sudah tua, dibutuhkan investasi Rp300 miliar.(BEST PROFIT FUTURES)

“Kemudian penambahan kapasitas untuk memenuhi peningkatan kebutuhan Kementerian Pertahanan,

TNI-Polri Rp300 miliar kemudian Rp100 miliar untuk kerjasama dengan luar negeri,” sebutnya.

Menurut Silmy anggaran investasi untuk luar negeri hanya sedikit karena pada dasarnya kerjasama ini melibatkan kedua pihak,

sehingga sudah ada penambahan modal.

“Kan mereka juga modal. Existing kapasitas kita ada. Kalau peluru kita lihat berapa devisa yang keluar. Kan industri pertahankan Hemat devisa,

buka lapangan pekerjaan, meningkatkan level penguasaan teknologi, dan peningkatan pajak,” jelasnya.

Silmy menjelaskan, selama ini pihak Pindad sudah bekerjasama dengan pihak dari luar negeri. Tercatat sudah ada tiga perusahaan yang bekerjasama dengan Pindad.

“Sudah ke Ren Metal, FNSS, CMI. Tapi yang jelas salah satu cara untuk menguasai teknologi,” pungkasnya.

Minyak bertahan di atas $ 50 di tengah ketidakpastian atas kesediaan Rusia untuk bergabung dengan upaya OPEC untuk menstabilkan pasar.(BEST PROFIT FUTURES)

Minyak berjangka sedikit berubah di New York setelah turun 1,1 persen pada hari Selasa. Produsen minyak terbesar asal Rusia Rosneft PJSC mengatakan tidak akan memangkas produksi, menurut Reuters, setelah Presiden Vladimir Putin sebelumnya mengatakan negaranya akan bergabung dengan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dalam pembekuan atau memotong pasokan. Rusia dan kelompok produsen minyak akan bertemu di Istanbul pada hari Rabu untuk membahas perjanjian produksi. Pasokan dan permintaan akan kembali ke keseimbangan awal dari yang diharapkan jika kesepakatan OPEC untuk memangkas produksi dilaksanakan, kata International Energy Agency.

Minyak naik ke level tertinggi 15-bulan pada hari Senin setelah Arab Saudi menyatakan optimismenya bahwa OPEC akan membuat kesepakatan untuk memangkas produksi dan Rusia menyatakan dukungannya. Peningkatan sampai $ 60 per barel mungkin akan memicu lonjakan dalam produksi di Amerika Utara sambil memangkasan pertumbuhan permintaan global, Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan pada Selasa kemarin.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman November diperdagangkan di $ 50,75 per barel, turun 4 sen, di New York Mercantile Exchange pada pukul 10:03 pagi di Sydney. Harga WTI pada hari Selasa turun 56 sen menjadi $ 50,79. Total volume perdagangan sekitar 83 persen kurang dari rata-rata 100-hari.

Minyak Brent untuk pengiriman Desember turun 73 sen, atau 1,4 persen, ke $ 52,41 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global untuk bulan Desember ditutup lebih besar $ 1,17 dari WTI.

Sumber dari http://economy.okezone.com