PT Best Profit Futures Surabaya

Pemerintah Komit Optimalkan Energi Alternatif

BEST PROFIT FUTURES SURABAYA – Kebijakan energi pemerintah ke depan akan lebih mengedepankan optimalisasi energi alternatif. Langkah ini untuk menjamin terjaganya secara simultan keberlanjutan (sustainability) energi, lingkungan dan anggaran atau fiskal

“Tidak hanya akan berdampak positif terhadap lingkungan karena zero emission, energi alternatif juga akan mengurangi beban fiskal,” kata Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro

saat berbicara di depan peserta Partnership for Solution Regional Workshop: Priorities and Pathway for Sustainable Energy and Deep Decarbonization in Indonesia,

dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (BEST PROFIT FUTURES).

Menurut Bambang, tantangan ke depan antara lain adalah menjaga sustainable fiscal untuk mencapai target pembangunan ekonomi seperti pengentasan kemiskinan.

Salah satu caranya adalah mengurangi beban subsidi untuk energi dengan menggunakan sumber alternatif seperti gas alam.

“Harga gas alam lebih murah, tidak perlu subsidi seperti premium sehingga tidak memberatkan fiskal,” katanya.

Untuk mengurangi angka kemiskinan yang kini masih mencapai sekitar 11 persen, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi tinggi.

Untuk mencapai itu, investasi pemerintah di berbagai bidang infrastruktur harus dipacu dan ini membutuhkan dukungan fiskal yang kuat dan berkelanjutan.

Tujuan itu bisa tercapai jika anggaran subsidi energi untuk BBM bisa terus dikurangi antara lain dengan mendorong penggunaan energi alteranatif seperti gas alam.

Penggunaan gas alam, lanjut Bambang, tidak hanya menguntungkan dari sisi beban fiskal tapi juga mengguntungkan pihak lain seperti Pertamina.

“Pertamina juga akan mendapat keuntungan,” ujarnya. (BEST PROFIT FUTURES).

Di samping gas alam, pemerintah juga akan mendorong sumber energi alternatif lainnya seperti biodiesel. Saat ini, penggunaan bio fuel dari CPO dalam bentuk bio diesel baru 10 persen,

dan dimasa datang akan ditingkatkan. “Produsen CPO sebetulnya menginginkan penggunaan bio fuel

dalam bio diesel bisa mencapai 20 persen sehingga pasar mereka bisa lebih besar,” tutur Bambang.

Senada dengan Bambang, President of Indonesian Counterpart for Energy and Environmental Studies (ICESS) Herman Darnel Ibrahim mengatakan,

Indonesia memang membutuhkan optimalisasi penggunaan

energi alternatif dengan mempertimbangkan technical cost yang murah seperti penggunaan gas.

Dalam memilih energi alternatif pilihannya harus berdasarkan technical cost yang lebih rendah dalam mengolah sumber energi menjadi energi. “Gas salah satu pilihan karena Indonesia mempunyai cadangan yang besar,” ucapnya.

Di samping itu, menurut Herman, pemerintah juga perlu merangsang kreatifitas masyarakat untuk menggunakan sumber energi alternatif skala kecil di masing-masing rumah tangga, terutama di pedesaan

Sementara itu, Leader Council SDSN Mari Elka Pangestu mengatakan, melalui kegiatan Partnership for Solution Regional Workshop ini diharapkan ada komitmen dari berbagai pihak.

Apa yang dikemukakan oleh Menteri Keuangan, menurut Mari adalah hal yang bagus untuk mendorong penggunaan energi alternatif seperti gas dan biodiesel.

“Saran Menteri Keuangan sangat bagus, untuk mulai melakukan konversi bahan bakar ke CNG atau bio diesel yang dimulai dari public transportation di

kota-kota besar Indonesia dan berusaha mencari pengalaman dari negara-negara yang expert telah melakukan hal itu,” kata Mari.

Menteri Perdagangan 2004-2011 dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kretaif 2011-2014 ini berharap,

selain Jakarta, kota-kota besar lainnya di Indonesia bisa mulai menerapkan pola pembangunan yang berkelanjutan untuk transportasi massal dengan mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke CNG, atau biodiesel.

Sumber dari http://economy.okezone.com