PT Best Profit Futures Surabaya

Pasar Saham Harus Pantau Penaikan Harga BBM

BEST PROFIT FUTURES SURABAYA – Dalam sepekan ke depan, laju IHSG diprediksi akan terkoreksi. Pelaku pasar saham pun disarankan bersikap wait and see atas penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Kepada INILAHCOM, pengamat pasar modal Andre Mahardika mengatakan hal itu.

Pada perdagangan Jumat (14/11/2014) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 0,82 poin (0,016%) ke angka 5.049,488. Sepanjang perdagangan, indeks mencapai level tertingginya 5.068,077 dan terendah 5.035,461. Berikut ini wawancara lengkapnya: (BEST PROFIT FUTURES)

Mengakhiri pekan lalu, IHSG hanya menguat tipis 0,016% ke 5.049. Apa yang terjadi?

Tipisnya penguatan IHSG di akhir pekan hanya 0,82 poin (0,016%) ke 5.049,488 dipicu oleh faktor pengumuman BI rate yang dipertahankan Bank Indonesia (BI) di level 7,5%.

Di sisi lain, pasar juga terpengaruh negatif oleh faktor koalisi di mana Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) kembali retak setelah KIH menginginkan penghapusan hak-hak DPR dalam UU MD3. Jadi, masalah politik juga sempat membuat pasar panik.(BEST PROFIT FUTURES)

Bagaimana dengan rencana penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hingga saat ini?

Soal penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, juga masih ditunggu pasar. Ini bisa dilihat dari nilai transaksi di pasar yang mulai sepi. Pasar merasa belum confirm dengan penaikan harga BBM bersubsidi, kapan dan seberapa besar.(BEST PROFIT FUTURES)

Lantas, bagaimana Anda melihat arah IHSG sepekan ke depan?

Arah sepekan ke depan, IHSG kemungkinan terkoreksi. Masih arah koreksi di mana pembelian saham tertekan turun dan penjualan saham tertekan naik. Jadi, dalam sepekan ke depan, IHSG saya estimasikan masih akan tertekan turun dengan support di 5.022. Di sisi lain, resistance IHSG berada di 5.082.(BEST PROFIT FUTURES)

Faktor apa saja yang menyebabkan tekanan turun lebih besar?

Faktor-faktor yang menyebabkan tekanan beli menurun antara lain terlihat dari sektor perdagangan, konsumer dan perkebunan. Ketiga sektor tersebut mendapat tekanan turun yang membesar.

Itu cukup beralasan karena sektor konsumer, perdagangan, dan perkebunan sudah alami kenaikan yang signifikan sebelumnya sehingga secara teknikal sudah jenuh beli. Trennya seperti itu, sudah mulai koreksi.

Di sektor lain, seperti manufaktur dan properti, alami pembelian besar dari investor asing. Asing banyak masuk di situ. Dalam sepekan ke depan pun, polanya kemungkinan akan seperti itu.

Karena itu, sepekan ke depan, saham-saham properti, manufaktur, dan infrastruktur masih cukup bagus. Sektor-sektor tersebut terdongkrak oleh sentimen ditetapkannya BI rate di level 7,5% yang diterjemahkan pasar menjadi kenaikan sektor properti. Begitu juga dengan saham-saham manufaktur dan infrastruktur.

Apa saran Anda untuk para pemodal di bursa saham?

Dalam situasi ini, saya sarankan pelaku pasar untuk wait and see. Beberapa yang perlu dipantau, pertama, gerak investor asing apakah masuk atau keluar. Kedua, pantau pasar hingga ada kepastian penaikan harga BBM bersubsidi. Itu lebih aman.

Anda sendiri bagaimana melihat dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ke bursa saham?

Dampak kenaikan harga BBM ke bursa saham seperti apa, kita masih belum tahu. Sejauh ini, baru banyak yang meraba-raba, mungkin akan turun dan ada juga yang meraba-raba akan naik. Karena itu, untuk pastinya, lebih baik pantau terlebih dahulu.

Paling telat, penaikan harga BBM akhir November ini. Tapi, ada juga spekulasi kenaikan harga BBM setelah Jokowi pulang dari Australia, KTT APEC sebelum tanggal 20 November.

Faktor window dressing akhir tahun, apa kabar?

Saya sarankan pantau dulu penaikan harga BBM. Sebab, kelihatan sekali, transaksi di pasar sudah terlihat sepi. Biasanya, faktor window dressing akhir tahun seperti sekarang ini, sudah cukup ramai untuk akumulasi ulang saham.

Window dressing direspons dengan pemindahan dana saham-saham yang sudah naik signifikan ke saham-saham yang sedang turun tapi targetnya masih belum tercapai. Kata kuncinya adalah penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.(BEST PROFIT FUTURES)

Sumber dari http://pasarmodal.inilah.com