Nestapa Cerita Pasien Muda Menanti Ajal Gegara Corona | lt 11 Graha Bukopin

News

Pemprov DKI Jakarta ungkap adanya lonjakan pemakaman dengan protap COVID-19 dalam sepekan terakhir. Hal itu terjadi usai meningkatnya kasus corona di Ibu Kota.

Jakarta – Kondisi darurat sejumlah rumah sakit seiring dengan lonjakan kasus Corona menerbitkan nestapa. Ada cerita para pasien Corona usia produktif yang hanya bisa menanti ajal.

Cerita nestapa ini berjudul ‘Berapa Lama Lagi Saya Bisa Hidup Dok?” ini diungkap oleh dokter bernama Agnes Tri Harjaningrum melalui status Facebook-nya.

Cerita tersebut kembali dibagikan oleh pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, lewat akun Twitternya. detikcom telah mendapat izin untuk mengutip cerita tersebut.

“‘Berapa Lama Lagi Saya Bisa Hidup Dok?’ Malaikat maut seperti sudah melambai-lambai berjalan mendekat. Menanti RS Rujukan, ruang HCU, ICU, sama seperti menanti menemukan jarum dalam jerami. Itu jugalah yang tampaknya terjadi pada kakakku, yang kemudian meninggal 10 hari lalu. ‘Jadi saya bisa bertahan hidup berapa lama lagi Dok kalau saya nggak dapat-dapat rujukan? Kalau saya nggak dapat HCU atau ICU?’ Tanya pasien-pasien yang sudah sesak berat itu. Dokter mana yang tidak tercekat ketika mendapat pertanyaan seperti itu,” tulis Agnes dalam status yang diunggah pada Senin (28/6/2021).

Pasien Usia Produktif

Dia juga mendapat laporan bahwa para pasiennya banyak yang mengidap sesak napas. Selain itu, daftar tunggu IGD bisa mencapai hingga 50 orang.

“Pasien di IGD stagnan 9 orang Dok sesek semua.” Rujukan? Wassalam. Masih mending ini 9. Di RS besar waiting list di IGD bisa 30 hingga 50an orang,” lanjutnya.

Dia mengatakan sejumlah pasien dalam daftar tunggu sudah menandatangani Do Not Resuscitate (DNR). DNR merupakan keputusan untuk tidak melanjutkan tindakan pertolongan (CPR/cardiopulmonary resuscitation) setelah 30 menit tidak menunjukkan ada return of spontaneous circulation (ROSC). Pasien-pasien dengan DNR termasuk dalam kategori sebagai pasien menjelang ajal.

Mereka hanya bisa diberi obat-obatan sederhana, infus, dan oksigen sehingga, jika kondisinya memburuk, mereka tidak akan mendapat tindakan apa-apa lagi. Ironisnya, para pasien dalam daftar antrean ini rata-rata berada di rentang usia 30-50 tahun.

“Mereka benar-benar seperti menunggu antrian kematian kan jadinya hiks. Dan sedihnya pasen-pasen yang antri itu bukan yang sudah sepuh-sepuh, tapi usia 30 sampai 50an. Usia produktif, meskipun ada juga yang beneran sepuh memang. Kadang ada yang DOA (death on arrival), ada juga yang meninggal di perjalanan,” ungkapnya.

Dia menuturkan bahwa angka kematian di RSUD tersebut tinggi. Hampir setiap hari ada pasien yang meninggal dunia.

“Angka kematian di RS ini pasti tinggi, karena hampir setiap hari ada pasen meninggal. Hari ini 2, kemarin satu. Padahal sebulan lalu seminggu juga belum tentu satu. Bagian peralatan sudah menyiapkan peti mati lebih banyak karena kebutuhan meningkat,” tuturnya.

BEST PROFIT
PT BESTPROFIT FUTURES
PT BESTPROFIT
BESTPROFIT

sumber detik