PT Best Profit Futures Surabaya

Lima Komoditi Ini Wajib Gunakan Letter of Credit

BEST PROFIT FUTURES SURABAYA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mewajibkan penggunaan Letter of Credit (L/C) terhadap eksportir barang tertentu yang akan diterapkan per tanggal 1 April 2015.

Regulasi tersebut tertulis dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 04/M-DAG/PER/1/2015 Tentang Ketentuan Penggunaan Letter of Credit untuk ekspor barang tertentu. (BEST PROFIT FUTURES)

“Komoditi yang diwajibkan menggunakan L/C dalam pembayarannya yakni, mineral,

batubara, minyak dan gas bumi, serta crude palm oil (CPO) dan

Crude Palm Kernel Oil (CPKO),” ujar Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel di kantornya, Rabu (14/1/2015)

“Pemberlakuan cara pembayaran L/C bagi eksportir barang tertentu ini mendorong

optimalisasi dan akurasi perolehan DHE, khususnya hasil ekspor komoditas sumber daya alam,” tambahnya.

Dia menjelaskan, peraturan tersebut untuk mendukung upaya pelestarian sumber daya, memastikan akurasi devisa hasil ekspor dan menggenjot

berkembangnya investasi dan industri pengguna untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian nasional.

“Wajib L/C juga untuk meningkatkan tertib usaha dan efektivitas

pelaksanaan kebijakan ekspor barang tertentu, serta mendorong kegiatan industri perbankan.

Bagi eksportir, mereka akan memperoleh rasa aman dalam bertransaksi,

serta kepastian order dan kepastian produksi bagi pelaku usaha,” tandas Rahmat.

Minyak diperdagangkan mendekati level $ 50 per barel seiring data pemerintah

AS menunjukkan stok minyak mentah turun untuk minggu kelima sehingga memangkas pemangkasan stok yang ada.

Minyak berjangka turun 0,3 persen di New York setelah naik 2,3 ‹‹persen hari Rabu untuk mendapatkan penutupan tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.

Stok minyak mentah turun di bawah 500 juta barel untuk pertama kalinya sejak Januari setelah stok turun 2,98 juta barel pekan lalu, Administrasi Informasi Energi melaporkan.

Survei Bloomberg memperkirakan kenaikan pada stok.

Minyak akan terhenti di level $ 55 per barel seiring kembali beroperasinya pengebor minyak serpih AS, menurut Goldman Sachs Group Inc.

Minyak telah naik sekitar 11 persen sejak Organisasi Negara Pengekspor Minyak pekan lalu

sepakat untuk memangkas produksi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun.

OPEC, yang memompa keluaran pada level rekor bulan September, akan memutuskan

kuota pembatasan pada pertemuan resmi kelompok ini di Wina pada 30 November mendatang.

Semntara itu, badai Hurricane Matthew semakin menguat dan saat ini mendekati pantai Timur AS.

West Texas Intermediate untuk pengiriman November

di level $ 49,69 per barel di New York Mercantile Exchange, turun 14 sen, pada pukul 08:01 pagi waktu Hong Kong.

Kontrak naik $ 1.14 ke level $ 49,83 pada hari Rabu, (BEST PROFIT FUTURES)

yang merupakan penutupan tertinggi sejak 29 Juni, total volume yang diperdagangkan yakni sekitar 76 persen di bawah rata-rata 100-hari.

Harga naik 7,9 persen bulan lalu. (BEST PROFIT FUTURES)

Brent untuk pengiriman Desember kehilangan 14 sen ke level $ 51,72 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Kontrak tersebut naik 2 persen ke level $ 51,86 pada hari Rabu.

Indeks acuan global ini diperdagangkan pada $ 1,46 premium untuk untuk bulan Desember WTI.

Sumber dari http://economy.okezone.com