PT Best Profit Futures Surabaya

Jokowi-JK Butuh UU Khusus Penanganan Krisis

Best Profit Futures –  Pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) akan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perekonomian global yang masih bergejolak bisa berdampak kepada Indonesia.

Misalnya isu rencana kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves/The Fed.

Jika ini terjadi tahun depan, maka dana-dana di pasar modal akan kembali ke AS dan terjadi guncangan di Indonesia.

Menghadapi hal tersebut, Menteri Keuangan Chatib Basri menilai Indonesia sangat membutuhkan Undang-undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).

Ini adalah aturan yang menjadi dasar hukum pengambilan keputusan kala terjadi masalah di sektor keuangan. (Best Profit Futures)

Urgent (mendesak), karena kita akan berhadapan dengan likuditas yang ketat akibat normalisasi kebijakan di AS.

Jadi bukan tidak mungkin ada guncangan di dalam sektor keuangan,” tegasnya di Gedung DPR/MPR/DPD, Jakarta, Rabu (24/9/2014). (Best Profit Futures)

Aturan mengenai JPSK juga memberi landasan bagi pemerintah, Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS),

dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengambil kebijakan. Masing-masing institusi ini punya peran tersendiri kala mengatasi gejolak di pasar keuangan.

“Kalau ada guncangan, kita cegah agar krisis nggak terjadi. Tentunya yang kita butuhkan UU JPSK,” tutur Chatib.

Pemerintah dan BI, lanjut Chatib, memang berkomitmen untuk melakukan antisipasi dan pencegahan krisis.

Namun UU JPSK akan memberikan landasan yang kuat sehingga kebijakan bisa lebih optimal. (Best Profit Futures)

“Semuanya harus didorong. Tapi kan UU-nya nggak ada,” ujarnya.

Pemerintah sebenarnya sudah mengajukan RUU JPSK kepada DPR sejak 2009, kala krisis keuangan global masih hangat-hangatnya. Namun perdebatan RUU tersebut selalu alot, dan akhirnya sekarang terlupakan.

DPR kala itu tidak sepakat dengan sejumlah poin di RUU JPSK. Salah satunya adalah kebijakan tidak disalahkan dan dibawa ke ranah hukum.

  (Best Profit Futures)

Saham China melemah pada hari Kamis ini, membalikkan beberapa kerugian pada sesi pagi, sementara investor tetap

berhati-hati dalam menghadapi perlambatan pertumbuhan laba industri, pelemahan yuan yang masih berlangsung, dan tumbuhnya kekhawatiran atas ketatnya likuiditas.

Indeks CSI300 blue-chip turun 0,3 persen, ke 3,345.70, sementara indeks Shanghai Composite turun 0,1 persen ke 3,112.35 poin.

Kepercayaan investor dalam pemulihan ekonomi China digoyahkan oleh data yang menunjukkan keuntungan dalam perusahaan industri China tumbuh sebesar 7,7 persen di September,

melambat tajam dari kecepatan 19,5 persen bulan sebelumnya terkait beberapa sektor yang terpengaruh oleh lemahnya aktivitas. (Best Profit Futures)

Sumber dari http://finance.detik.com