PT Best Profit Futures Surabaya

Jelang Puasa, Impor Kurma Mulai Tinggi

BEST PROFIT FUTURES – Bulan Ramadhan hanya tinggal beberapa hari lagi. Biasanya konsumsi masyarakat meningkat pada momentum ini, termasuk untuk buah-buahan.

Salah satu buah yang identik dengan Ramadhan adalah kurma. Buah yang berasal dari Jazirah Arab tersebut cenderung menjadi konsumsi utama saat berbuka puasa setiap harinya.

Ini yang kemudian berdampak pada aktivitas impor kurma. Dalam 3 bulan, kurma yang masuk ke dalam negeri mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dari bulan-bulan sebelumnya.

“Bisnis kurma itu paling tinggi pada 3 bulan dalam setahun. Jadi mulainya itu satu bulan sebelum puasa, saat bulan puasa, dan setelah lebaran,” kata Ketua Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia (Assibisindo) Kafi Kurnia kepada detikFinance, Minggu (15/6/2014).  (Best Profit Futures)

Kurma tersebut berasal dari berbagai negara di Timur Tengah dan Afrika Utara. Terbesar untuk saat ini adalah dari Tunisia. Dalam beberapa tahun terakhir, Tunisia berhasil menjadi pemain terbesar bisnis kurma di Indonesia.

“Kurma itu bukan hanya dari 1 negara, tapi sampai 10 negara. Pemain besar itu dari Afrika yaitu Tunisia. Sisanya negara di Timur Tengah yang ekspornya cukup banyak,” jelas Kafi.

Setiap tahunnya, impor kurma memang bergerak naik turun dan sulit diprediksi meski fluktuasinya tidak terlalu tinggi. Alasannya yang pertama adalah dari sisi produksi kurma. “Lihat hasil panennya seperti apa,” ujar Kafi.

Kedua adalah persaingan di pasar global. Konsumen kurma tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga negara-negara lain seperti Thailand, Malaysia, Filipina, dan sebagainya.  (Best Profit Futures)

“Ini tergantung siapa yang bisa mengeluarkan dolar kencang ya dapatnya banyak. Kalau tidak ya kita nggak bisa mendapatkan kurma yang bagus,” tutur Kafi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jelang bulan puasa tahun lalu, impor kurma tercat sebesar 4.752 ton atau US$ 8,8 juta.

Kurma Tunisia masuk paling banyak ke dalam negeri dengan 1.539 ton atau US$ 4,5 juta. Kemudian Mesir 2.032 ton atau US$ 2 juta, Uni Emirat Arab 377 ton atau US$ 455 ribu, dan Iran 550 ton atau US$ 480 ribu.

Selain itu juga ada dari Amerika serikat dengan 166 ton atau US$ 1,2 juta, Tiongkok 37 ton atau US$ 48 ribu, Arab Saudi 12 ton atau US$ 13 ribu, Aljazair 17 ton atau US$ 50 ribu, serta Malaysia 20 ton atau US$ 23 ribu.

(Best Profit Futures)

Sumber dari http://finance.detik.com