PT Best Profit Futures Surabaya

Ini Alasan Indonesia Masih Impor Garam Industri

BEST PROFIT FUTURES SURABAYA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan bahwa saat ini Indonesia masih belum bisa melepaskan diri dari ketergantungan terhadap impor garam khususnya garam industri.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan menjelaskan, Indonesia masih harus bergantung

pada garam industri impor karena belum bisa memproduksinya sendiri di dalam negeri. (BEST PROFIT FUTURES)

Garam Industri, kata dia, memiliki spesifikasi yang berbeda dengan garam konsumsi. “Kita belum bikin NaCl untuk 97% ke atas.

Produksi kita masih garam yang kadar NaCl-nya sekitar 94,7%. Kita belum produksi itu, makanya kita masih bergantung impor,”

ujar dia saat ditemuai di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (10/12/2014) malam. (BEST PROFIT FUTURES)

Ia mengungkap, setiap tahunnya Indonesia memerlukan 1,9-2,1 juta ton garam industri. “Garam industri kebutuhan kita 1,9-2,1 juta ton per tahun.

Karena kita nggak produksi garam yang kadarnya khusus tadi makanya kita masih perlu full impor,” sambung dia.

Di Indonesia sendiri, sambung dia, garam industri digunakan untuk berbagai kegiatan produksi untuk

tekstil dan kertas. Ada juga untuk kebutuhan pengeboran, juga farmasi dan industri makanan-minuman (mamin).

“Itu digunakan untuk pengeboran, digunakan untuk sodakostik di pabrik pulp and paper dan tekstil untuk pemutih,” tutur dia.

Dari data yang dipaparkannya, saat ini 70% ketersediaan garam industri diserap oleh industri pulp anda paper, 20% diserap untuk

kegiatan pengeboran oleh industri pertambangan dan 10% sisanya intuk industri farmasi dan aneka industri lainnya.

“Itu yang masih harus dipikirkan cara meningkat poinnya,” pungkas dia.

 kepercayaan konsumen tiba-tiba jatuh ke terendah setahun pada bulan Oktober karena

warga Amerika pesimis pada prospek perekonomian di tengah kampanye debat pemilihan presiden.(BEST PROFIT FUTURES)

Indeks sentimen awal University of Michigan menurun menjadi 87,9 dari 91,2 pada bulan September,

menurut laporan Jumat. Yang lebih lemah dari perkiraan terendah dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom.

Kenaikan yang berkelanjutan dalam pembayaran para pekerja tetap sulit dipahami bahkan ditengah perusahaan terus menambah lapangan pekerjaan karena laju yang solid,

serta ketidakpastian politik dapat menahan rasa percaya diri.

Pada saat yang sama, biaya bahan bakar yang masih murah dan prospek kerja meningkatkan akan membantu mendukung belanja konsumen,

yang menyumbang sekitar 70% untuk perekonomian.(BEST PROFIT FUTURES)

Meski begitu, margin konsumen mengharapkan partai Demokrat Hillary Clinton untuk memenangkan pemilu melebar

pada bulan Oktober untuk kesenjangan 46 poin persentase, dari 34 poin pada September. (BEST PROFIT FUTURES)

Sumber dari http://finance.detik.com/