PT Best Profit Futures Surabaya

Importir Ponsel Timbun Stok Sebelum Kena Pajak Barang Mewah

Best Profit Futures –  

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor pada April 2014 tercatat US$ 16,26 miliar atau melonjak 11,93% dibandingkan bulan sebelumnya. Faktor pemicu utamanya adalah peningkatan impor telepon seluler (ponsel) sebesar 58,9% dari US$ 209 juta menjadi US$ 332,1 juta. Apa penyebab impor ponsel meningkat?

“Kita impor handphone dan gadget yang jumlahnya melebihi bulan yang lalu yaitu US$ 332 juta. Ini karena satu karena kita ingin mengenakan PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah) jadi besar impornya. Untuk menyetok biasanya ini pedagang, supaya saat PPnBM dinaikan mereka sudah punya stok,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian Chairul Tanjung atau CT saat ditemui di Kantornya di Kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, senin (02/06/2014). (Best Profit Futures)

Apalagi menurut CT, trend pembelian handphone akan meningkat sebelum hari raya Lebaran. “Khususnya stok ini untuk mendekati lebaran,” imbuhnya.

Meningkatnya nilai impor ponsel menjadi salah satu penyumbang defisit neraca perdagangan Indonesia April 2014 ini. Di satu sisi, nilai ekspor Indonesia mengalami tekanan karena menurunnya nilai ekspor produk Crude Palm Oil (CPO).

“Jadi ekspor menurun US$ 1 miliar dan gadget mengimpor lebih dari US$ 332 juta jadi sudah hampir defisit US$ 1,5 miliar. Selisihnya ada peningkatan dari impor barang modal, impor bahan baku, dan juga impor terhadap barang konsumsi khususnya mendekati puasan dan lebaran ini,” tuturnya.

Tetapi menurut CT, bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, defisit neraca perdagangan tahun ini jauh kecil. Defisit neraca perdagangan Januari-April 2013 mencapai US$ 4 miliar sedangkan Januari-April 2014 hanya mencapai US$ 900 juta. (Best Profit Futures)

“Tetapi ini siklus. Kita lihat secara utuh Januari-April sampai saat ini total neraca perdagangan kita itu tidak sampai US$ 1 miliar tepatnya US$ 900 juta dibandingkan tahun lalu US$ 4 miliar lebih. Jadi lebih baik sebenarnya,” jelasnya.

Tetapi menurut CT, bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, defisit neraca perdagangan tahun ini jauh kecil. Defisit neraca perdagangan Januari-April 2013 mencapai US$ 4 miliar sedangkan Januari-April 2014 hanya mencapai US$ 900 juta.

“Tetapi ini siklus. Kita lihat secara utuh Januari-April sampai saat ini total neraca perdagangan kita itu tidak sampai US$ 1 miliar tepatnya US$ 900 juta dibandingkan tahun lalu US$ 4 miliar lebih. Jadi lebih baik sebenarnya,” jelasnya. (Best Profit Futures)

Sumber dari http://finance.detik.com