PT Best Profit Futures Surabaya

Harga Premium Bisa Rp 5.500

Best Profit Futures – Harga minyak mentah dunia diproyeksikan bakal terus menurun hingga 25 dollar AS per barrel.

Sebab, pasokan minyak di pasar global akan semakin melimpah menyusul dicabutnya

sanksi ekonomi terhadap Iran yang merupakan produsen minyak terbesar setelah Arab Saudi.

Pengamat Energi UGM Fahmy Radhi mengatakan, turunnya harga minyak dunia ini harus dibarengi

kebijakan pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik.

“Asumsi saya harga minyak bisa turun lagi menjadi 25 dollar AS per barrel, karena pencabutan sanksi bagi Iran,” ujar dia, Minggu (Best Profit Futures).

Dengan melihat harga perkembangan minyak dan perkembangan harga MOPS Singapura saat ini, Fahmy memperkirakan harga solar subsidi harga solar subsidi seharusnya bisa turun menjadi Rp 4.000 per liter.

Dasar perhitungannnya, harga solar MOPS saat ini hanya sekitar Rp 3.500 per liter.

Kemudian, ditambah biaya distribusi serta margin bagi Pertamina dan SPBU sebesar Rp 1.500 per liter, maka total harga keekonomian solar mencapai Rp 5.000 per liter.

Lantaran untuk solar subsidi masih mendapatkan suntikan Rp 1.000 per liter dari pemerintah,

maka harga jual solar di Indonesia seharusnya bisa turun menjadi Rp 4.000 per liter.

“Kalau hitungan harga premium agak sulit, karena tidak terkait dengan MOPS,

namun tidak jauh berbeda dengan solar. Sehingga potensi turunnya bisa menjadi Rp 5.500 per liter,” kata Fahmy.

Menurut Fahmy, mengingat kebijakan pemerintah yang hanya mengevaluasi harga BBM per tiga bulan yakni pada Maret 2016 depan.

Sehingga harga jual solar subsidi dan premium sangat mungkin akan turun lagi.

“Nanti pada Maret mendatang, selain menurunkan harga pemerintah dan PT Pertamina juga harus transparan menjelaskan jumlah keuntungan dalam penjualan BBM,

karena kan harganya sudah sangat berbeda jauh,” kata dia.

Saat ini, harga BBM Premium Rp 6.950 per liter untuk selain Jawa, Madura Bali (Jamali) dan Rp 7.050 per liter untuk wilayah Jamali, sedangkan solar subsidi Rp 5.650 per liter.

Selain penurunan harga BBM, pemerintah juga harus menyesuaikan penurunan tarif listrik mengingat harga bahan bakar mulai dari miyak, gas, dan batubara juga mengalami penurunan.

Fahmy bilang, potensi penurunan tarif listrik bisa mencapai Rp 100 hingga Rp 150 per kilowatt hours (kwh).

Menurut Fahmy, penurunan harga energi tentunya bisa mendorong daya beli masyarakat dan dapat menolong kesulitan industri.

“Harga gas industri serta gas elpiji juga seharusnya turun, sehingga menaikkan daya beli masyarakat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Hal senada juga dikatakan Mohammad Faisal, Ekonom Core Indonesia, meskipun penurunan harga minyak dunia dapat menurunkan potensi pajak dan PNBP migas dalam APBN sekitar Rp 200 triliun.

Namun dengan penurunan harga energi potensi pertumbuhan ekonomi tetap bisa terangkat.

Oleh sebab itu, pemerintah dapat memanfaatkan penurunan harga minyak dunia untuk kepentingan ekonomi nasional.

Yakni, dengan menurunkan harga BBM, gas, serta tarif listrik.

“Dampaknya akan lebih banyak positifnya, biaya hidup masyarakat akan lebih rendah, dan seharusnya penurunan harga BBM juga bisa dikuti harga jual bahan pangan,” kata dia.

Untuk kalangan industri, penurunan harga energi juga akan mampu meningkatkan daya saing pengusaha dengan melakukan efisiensi biaya produksi.

“Secara umum, peningkatan perekonomian dalam negeri, tergantung dengan kebijakan BBM pemerintah, seberapa fleksibel turunnya,” kata dia. (Best Profit Futures).

Sumber : kompas.com