PT Best Profit Futures Surabaya

Ekonom Ini Kritik Program Ekonomi Prabowo dan Jokowi

Best Profit Futures – Dua pasang capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa serta Joko Widodo-Jusuf Kalla telah menyampaikan program-program yang akan dilakukan jika terpilih memimpin Indonesia dalam 5 tahun ke depan. Namun, ada anggapan bahwa program-program ekonomi kedua pasangan ini tidak realistis.

Pengamat ekonomi Lin Che Wei berpendapat, program Prabowo-Hatta dalam mengurangi angka defisit anggaran di angka minus 1% terhadap produk domestik bruto (PDB) sulit diwujudkan. (Best Profit Futures)

“Prabowo mengasumsikan budget deficit minus 1% pada 2017, itu artinya nggak ada pembangunan. Padahal pemerintah sekarang mematok budget deficit di 2,5%, itu yang realistis. Kita juga harus terus mendorong pembangunan infrastruktur,” tegas Lin saat acara Diskusi ‘Program Ekonomi Capres Setinggi Langit, Bagaimana dan dari Mana Pembiayaannya? Realistiskah Atau Janji Kosong?’ di Apartemen Menteng, Jakarta, Selasa (10/6/2014).

Selain soal defisit anggaran, program Prabowo juga menyebutkan tidak akan menambah utang baru di tahun-tahun mendatang. Menurut Lin, ini justru membuat ruang gerak anggaran negara lebih sempit.

“Prabowo menyebut ke depan tidak akan ada utang baru. Ini artinya uang yang tersedia jauh lebih limited lagi. Yang lebih mati, Prabowo punya program spending 15% terhadap GDP. Sumber duitnya dari mana?” paparnya. (Best Profit Futures)

Lin juga menyoroti target dua pasangan ini yang ingin mencapai rasio penerimaan pajak terhadap PDB (tax ratio) mencapai 16%. Saat ini tax ratio masih di kisaran 12%.

“Dua-duanya asumsinya tax to GDP ratio 16%. Ngawur itu, susah dicapai. Jumlah tax collector sama jumlah wajib pajak jomplang. Yang realistis 14-15%, itu juga sudah megap-megap,” tuturnya.

Kemudian, Lin juga menilai janji Jokowi untuk menganggarkan belanja pertahanan 1,5% PDB sebagai hal yang mubazir. “Itu nggak diperlukan, infrastruktur yang butuh anggaran lebih banyak. Infrastuktur dari mana uangnya?,” ucapnya. (Best Profit Futures)

Minyak turun karena fokus pasar bergeser dari keterkejutan atas kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden AS ke pertanyaan tentang kemampuan OPEC untuk menyeimbangkan pasokan minyak mentah dan permintaan.

Minyak mentah berjangka turun 1 persen di New York, menghapus keuntungan sebelumnya setelah Badan Energi Internasional mengatakan harga dapat turun di tengah “pertumbuhan pasokan global yang tanpa henti ” kecuali Organisasi Negara Pengekspor Minyak memberlakukan penurunan produksi yang signifikan. Ini masih terlalu dini untuk mengatakan apa dampak dari kepresidenan Trump pada kesepakatan nuklir yang memungkinkan kebangkitan produksi Iran, kata Eni SpA Chief Executive Officer Claudio Descalzi. (Best Profit Futures)

Sumber dari http://finance.detik.com