PT Best Profit Futures Surabaya

Dampak Dolar AS Rp 14.000 ke Ekonomi RI

PT Bestprofit
PT BESTPROFIT FUTURES Dolar Amerika Serikat (AS) terus hingga tembus Rp 14.040 kemarin. Posisi tersebut merupakan tertinggi tahun ini.

Dampaknya apa sih ketika dolar AS menguat sampai ke level Rp 14.000? Beberapa bahasan mengenai dampak penguatan dolar terhadap perekonomian Indonesia sudah terangkum di detikFinance, berikut ulasannya: PT BESTPROFIT

Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat hingga menembus Rp 14.040. Angka tersebut merupakan posisi tertinggi nilai tukar dolar AS yang terjadi tahun ini. BESTPROFIT

Pelemahan rupiah juga mempengaruhi pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka turun 22,318 poin (0,38%) ke level 5.862,780. Bahkan hingga pukul 10.13 waktu JATS IHSG sudah anjlok 1,73% ke posisi 5.783,035. BEST PROFIT

Melihat kondisi tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Samsul Hidayat menilai pelemahan Rupiah yang kembali berlanjut memaksa investor asing untuk meramu kembali strategi investasinya di Indonesia. Hal itulah yang membuat adanya arus keluar dana asing dari pasar modal.

“Kan memang mayoritas kepemilikan saham sebagian asing dan saya kira mereka sedang membuat rebalancing dari sisi portofolio mereka. Karena mereka sedang mengukur faktor risiko dan pergerakan currency yang ada,” tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Samsul menambahkan, memang bagi investor asing yang menempatkan dananya di Indonesia tengah bergejolak, namun dia yakin pasar modal Indonesia masih menarik bagi mereka. Sebab kinerja para perusahaan tercatat masih dalam tren positif.

“Tentunya akan ada sedikit gejolak di mereka. Tapi saya yakin dengan permormance emiten kita yang cukup baik, bahkan sebagian dari mereka memperoleh peningkatan laba dari 2016,” tuturnya.

Di posisi terakhir hari ini investor asing telah melakukan aksi jual dengan catatan net sell Rp 167,6 miliar. Sementara dari awal tahun net sell sudah mencapai Rp 36,6 triliun.

Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman menjelaskan, 80% komponen pembuatan pakan ternak disuplai dari luar negeri.

“Industri pakan ternak itu komponen antara 75-80% (impor). Salah satu contoh bahan baku yang paling kena adalah bungkil kedelai, itu dari Argentina dan Brasil impor. Komoditas ini bukan hanya terdampak karena dolar yang naik tapi juga ada internasional marketnya juga naik, jadi ini sudah jatuh tertimpa tangga,” kata dia kepada detikFinance, Selasa (8/5/2018).

Ia menjelaskan, industri ini terkena dampak dua kali, setelah USD naik menjadi Rp 14.000 kemudian harga bahan baku di pasar juga naik. Ia mengatakan, pakan ternak bisa terpangaruh karena fluktuasi harga komoditas internasional dan fluktuasi curancy USD. Kondisinya kata Sudirman kedua hal ini sedang mengalami kondisi buruk dengan nilai yang terus melambung tinggi.

“Ini dua duanya lagi jelek melambung tinggi. Jadi bisa dibayangkan pada awal Januari, dolar masih Rp 13.300 sekarang sudah Rp 14.000 itu berarti sudah naik Rp 700 jadi kalau dibandingkan dengan Januari sampai sekarang. Ada depresiasi rupiah cukup besar sebesar Rp 700 perak itu berarti ada kenaikan biaya pakan di 75% × 700 itu kalau kita bandingkan dari januari sampai sekarang,” papar dia.

Sudirman merinci, 80% komponen impor untuk untuk membuat pakam ternak diantaranya yaitu bukil kedelai yang didatangkan dari Argentina dan Brasil, tepung tulang dan daging yang didatangkan langsung dari Newzeland, Australia dan Amerika. Minyak jagung dari Amerika dan vitamin yang didatangkan langsung dari China dan Australia.

“Garam kita impor, waktu itu impor garam tersendat itu kita juga terganggu. Semua masih impor,” kata dia

Jika hal ini terus terjadi maka kenaikannharga pakan ayam kata Sudirman sudah pasti terjadi.

“Kalau kombinasi antara kenaikan harga komoditas dan depresiasi rupiah, itu bisa saya hitung itu seharusnya, itu harga pakan akan naik 10%,” kata dia.

Dengan adanya kenaikan harga jual pakan ternak, dikhawatirkan hargu jual daging ayam akan ikut menanjak seiring meningkatnya biaya produksi yang disumbang kenaikan harga pakan tersebut.

“Artinya kalau misalnya harga pakan Rp 6.500-7000/kg nanti kenaikannya bisa kalau nggak ganggu struktur biaya itu harusnya naik jadi Rp 6.550-7.700/kg,” beber dia.

Harga pupuk bisa lebih mahal karena saat ini Dolar Amerika Serikat (AS) terus mencatatkan penguatan. Pagi ini saja, dolar AS sudah bertengger di Rp 14.027 yang merupakan posisi tertinggi sejak awal tahun.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Aas Asikin Idat, menjelaskan penguatan dolar terhadap rupiah begitu berpengaruh biaya produksi. Karena dalam proses pembuatan pupuk pihaknya membutuhkan gas yang dibeli menggunakan dolar.

“Rupiah sangat berpengaruh, karena gas bayarnya bukan pakai rupiah, gas itu 70% dari komponen cost,” kata dia di Gedung Kementerian BUMN, Selasa (8/5/2018).

Untuk mengantisipasi penguatan dolar yang membuat ongkos pengeluaran atau produksi meningkat, pihaknya berusaha melakukan hedging atau asuransi uang. Selain itu juga pihaknya berusaha menggenjot produksi untuk ekspor.

“Solusinya cost kita maintance dan berusaha karena dolar naik kita usahakan ekspor dan hedging. Ekspor Vietnam, Bangladesh, China, Thailand, Australia dan Newzeland,” papar dia.

Ia menekankan tentu dengan prioritas produksi pupuk untuk diekspor agar menutupi pengeluaran akibat dolar menguat. Ekspor hanya bisa dilakukan jika kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi.

“Ekspor dilaksanakan setelah dalam negeri terpenuhi. Ekspornya 700.000 ton, di tahun 2018. Ingin lebih dari itu, kembali lagi kalau ada banjir ada replanting berarti harus diperbantukan,” kata dia.

Sumber : Detik