PT Best Profit Futures Surabaya

BI: Tak Ada yang Tahu Sampai Kapan Rupiah Melemah

PT Bestprofit
PT BESTPROFIT FUTURES Bank Indonesia (BI) kembali buka suara mengenai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang dalam sepekan terakhir terus menuju titik keseimbangan baru. Depresiasi rupiah, terbilang terjadi cukup cepat.

Pada 14 Mei 2018 lalu, dolar AS masih berada di bawah Rp 14.000 tepatnya ditutup di Rp 13.965. Keesokan harinya, greenback menembus Rp 14.000, tepatnya di Rp 14.032. PT BESTPROFIT

Akhirnya pada kemarin, Senin (21/5/2018) dolar AS menembus level psikologis baru Rp 14.200. BESTPROFIT

Meskipun memastikan akan selalu berada di pasar untuk melakukan upaya stabilisasi, BI akan tetap membiarkan rupiah bekerja sesuai mekanisme pasar. Bahkan, bank sentral tak bisa memprediksi sampai kapan rupiah terus melemah.

“Kami tidak ada yang tahu. […] Kami tidak bisa melawan mekanisme pasar. […] Dengan level sekarang ini artinya memang pasar menghedaki rupiah di level tersebut,” kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo.

Menurut Dody, tekanan terhadap nilai tukar rupiah murni berasal dari faktor eksternal. Sementara dari kondisi dalam negeri, meskipun tidak ada sentimen positif, sejauh ini tidak ada sentimen yang dirasa membuat depresiasi rupiah dalam satu minggu terakhir berjalan begitu cepat.

“Tidak ada apapun yang bisa membuat rupiah melemah [dari faktor domestik]. Positifnya juga tidak ada. Jadi netral,” jelasnya.

BI pun merasa keputusan untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan sudah cukup untuk menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia di tengah situasi ketidakpastian perekonomian global.

Hal tersebut sekaligus membantah pendapat para pelaku pasar yang menyebut langkah kenaikan suku bunga yang dtempuh BI terbilang terlambat sehingga pada akhirnya tidak mampu mengangkat pamor rupiah di mata investor asing.

“Ini [kenaikan suku bunga] konsisten untuk menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian,” tegasnya.

Depresiasi rupiah dalam satu minggu terakhir memang terjadi begitu cepat. Namun, BI merasa kondisi ini tidak bisa dibanding-bandingkan dengan siklus 10 tahunan yang pernah melanda Indonesia di periode 1998-2008.

“Kami sudah melihat bahwa kondisi 20 tahun lalu saat itu kondisi Indonesia beda sekali dengan yang sekarang. Lihat dari cadangan devisa, dan sekarang sudah ada perbankan yang sehat punya permodalan 22%,” jelas Gubernur BI Agus Martowardojo.

Secara umum, Agus menilai, sejumlah indikator perekonomian domestik masih menunjukan kondisi stabil. Bagi BI, kondisi perekonomian saat ini, termasuk pelemahan rupiah yang terjadi begitu cepat tidak perlu dibesar-besarkan.

Sumber : Detik