PT Best Profit Futures Surabaya

BI Proyeksi Rupiah Lebih Perkasa Tahun Depan

Best Profit
Best Profit Futures – Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah berada pada kisaran 13.200 per dolar Amerika Serikat (AS) sampai 13.500 per dolar AS pada tahun 2017.

Nilai tukar rupiah lebih kuat dari perkiraan sebelumnya 13.300 per dolar AS sampai 13.600 per dolar AS.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, penguatan rupiah didorong oleh meningkatnya pasokan dolar di dalam negeri. Hal tersebut sejalan dengan program pengampunan pajak. (Best Profit Futures)

“Implementasi UU Pengampunan Pajak mendorong meningkatnya pasokan valas memberikan dampak positif pergerakan rupiah.

Optimisme ekonomi Indonesia, reformasi struktural dan berlanjutnya arus modal asing menopang pergerakan rupiah,” kata dia dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara 2017 (RAPBN 2017) di Badan Anggaran DPR RI, Selasa (Best Profit Futures).

Dia mengatakan, pada tahun depan neraca pembayaran juga diperkirakan akan tetap positif.

“Pada tahun 2017 neraca pembayaran diperkirakan tetap positif didukung meningkatnya surplus transaksi modal dan finansial baik investasi langsung maupun portofolio,” ungkap dia.

Namun begitu, Agus menuturkan pergerakan rupiah juga dibayangi oleh rencana Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dan perekonomian mitra dagang Indonesia dalam hal ini China. (Best Profit Futures)

“Sentimen kenaikan suku bunga The Fed dan perkembangan Tiongkok,” tutur dia.

Sedangkan Dalam 10 Hari Terakhir, Rupiah Menguat 10,4%

Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) menguat drastis dalam perdagangan beberapa hari terakhir.

Penyebab penguatan rupiah karena potensi penguatan ekonomi Indonesia di tengah memudarnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun ini.

Mengutip Bloomberg, Jumat (9/10/2015), nilai tukar rupiah berada pada kisaran level 13.471 per dolar AS pada pukul 15.28 WIB.

Sejak pagi hingga menjelang siang ini, nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 13.281 hingga 13.774 per dolar AS.

Selama 10 hari terakhir, nilai tukar rupiah menguat sekitar 10,4 persen terhadap dolar AS.

Mata uang rupiah sempat mencapai titik terendah di Rp 14.828 pada 29 September 2015 dan kemudian menyentuh Rp 13.281 pada perdagangan Jumat pekan ini.

Pemerintah terus pro-aktif untuk menggeliatkan perekonomian nasional dengan meluncurkan paket kebijakan ekonomi.

Paket kebijakan yang dikeluarkan sejak pertengahan September hingga awal Oktober ini mampu mendorong penguatan rupiah.

Beberapa kebijakan tersebut memang memberikan dampak positif kepada sektor riil. Beberapa kebijakan tersebut adalah penyederhanaan aturan, penurunan harga solar bersubsidi dan non subsidi,

penurunan tarif listrik dan gas untuk industri.

Head of Research Archipelago Asset Management, AG Pahlevi menjelaskan, kebijakan penurunan harga BBM adalah kebijakan yang cukup besar dampaknya untuk meningkatkan perekonomian nasional.

“Ekspektasi pasar melihat bahwa penurunan harga BBM oleh pemerintah bisa mendorong konsumsi domestik.” terangnya.

Di sisi lain, rilis pertemuan The Federal Reserve pada 16-17 September menunjukkan kalau pejabat bank sentral AS menahan diri untuk menahan kenaikan suku bunga.

Hal itu mempertimbangkan prospek untuk pertumbuhan ekonomi dan inflasi, dan juga perkembangan ekonomi China. Bank sentral AS juga khawatir terhadap penguatan dolar AS. (Best Profit Futures)

Deputi Senior BI Mirza Adityaswara menuturkan, data ekonomi Amerika Serikat (AS) terjadi sedikit pelemahan terutama di data tenaga kerja membuat

konsensus kebijakan suku bunga bank sentral AS mulai bergeser kenaikannya yang semula pada Oktober dan Desember 2015 kemungkinan mundur pada 2016.

“Kebijakan suku bunga mulai bergeser kenaikannya menjadi pada kuartal I dan II. Ini membuat di pasar keuangan terjadi pembalikan. Beberapa investor dan spekulan beli dolar melakukan cut loss di pasar keuangan,” ujar Mirza.

Sebelumnya Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar forward guna menyeimbangkan penawaran dan permintaan di pasar forward. BI memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah.

Dalam kebijakan ini BI menerbitkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) tiga bulan dan Reverse Repo SBN dengan tenor 2 minggu. (Best Profit Futures)

Sumber Liputan6.com