PT Best Profit Futures Surabaya

Bank Sentral China Beri Pelonggaran, Indeks Shanghai Koreksi

PT Bestprofit

PT BESTPROFIT FUTURES Indeks Shanghai dibuka melemah tipis 0,01% ke level 2.889,44, sementara indeks Hang Seng dibuka stagnan ke level 29.326,12.

Sentimen positif yang datang dari pelonggaran kebijakan moneter nampak tak mampu mengangkat kinerja indeks Shanghai. Pada hari Minggu (24/6/2018),

The People’s Bank of China (PBOC) memutuskan untuk memangkas rasio Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank-bank tertentu sebesar 50bps. PT BESTPROFIT

Dikutip dari Reuters, PBOC mengungkapkan bahwa pemotongan GWM tersebut akan berlaku mulai 5 Juli. Kebijakan ini akan menambah likuiditas di pasar senilai

CNY 700 miliar atau setara dengan US $107,65 miliar dan dimaksudkan untuk meningkatkan laju debt-for-equity swaps dan penyaluran kredit bagi perusahaan-perusahaan kecil. BESTPROFIT

Sebagai catatan, debt-for-equity swaps merupakan sebuah metode restrukturisasi utang dimana pemberi pinjaman (bank) mengonversi utang dari kreditur yang bermasalah menjadi saham.

Sebelumnya, hal ini tidak bisa dilakukan dengan cepat seiring dengan dana yang terbatas yang dimiliki oleh bank. Dengan adanya pelonggaran moneter,

diharapkan semakin banyak restrukturisasi utang yang bisa dilakukan. BEST PROFIT

Peloinggaran tersebut diambil PBOC pasca indeks Shanghai mengalami minggu terburuknya sejak awal Februari,  seiring dengan ketakutan atas perang dagang China-AS

Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi dalam selama tiga hari perdagangan awal selepas libur panjang Idul Fitri. Situasi global yang kurang kondusif dan minimnya sentimen penggerak pasar dari dalam negeri membuat Indeks sulit menguat.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG melemah tipis 0,01%. Sehingga dalam tiga hari perdagangan awal usai cuti bersama Idul Fitri, IHSG sudah melemah sekitar 2,87%.

Pasar saham Indonesia baru dibuka pada 20 Juni setelah libur selama lebih dari sepekan. Pada awal-awal perdagangan, investor terlihat masih jet lag karena selama libur begitu banyak hal yang terjadi. Masa penyesuaian menjadi sedikit bergelombang atau bumpy.

Namun seiring perjalanan, pasar mulai menyesuaikan diri. Akhirnya koreksi IHSG pun semakin menipis dan mulai bisa mengikuti laju pasar global. PT BESTPROFIT

Pekan ini, sentimen yang sangat mempengaruhi pasar adalah perang dagang. Diawali dengan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengenakan bea masuk 25% terhadap lebih dari 800 produk

China mulai 6 Juli. Kebijakan ini memantik balas dendam Beijing, yang juga akan memberlakukan bea masuk 25% kepada lebih dari 600 produk AS mulai 6 Juli.

Beberapa hari kemudian, Uni Eropa turun gelanggang. Uni Eropa akan memberlakukan bea masuk 25% bagi berbagai produk AS karena Trump telah mengenakan kebijakan serupa untuk baja dan aluminium dari Benua Biru.

Produk-produk asal AS yang akan terkena bea masuk adalah jagung manis, kacang, jins, minuman bourbon, sampai sepeda motor.

Nilai perdagangan produk-produk ini mencapai US$ 3,2 miliar (Rp 45,2 triliun).

Perkembangan ini membuat pelaku pasar masih agak ragu-ragu. Hantu perang dagang masih bergentayangan, belum sepenuhnya pergi.

Isu perang dagang juga menyebabkan bursa saham utama Asia pun mengalami koreksi secara mingguan. Indeks Hang Seng anjlok 3,2%,

Shanghai Composite amblas 4,4%, Kospi turun 1,9%, Nikkei 225 melemah 1,21%, dan Straits Times berkurang 1,1%.

Sementara dari dalam negeri, hampir tidak ada sentimen yang bisa membantu IHSG. Seperti halnya pasar saham pasar valas pun masih jet lag karena tutup cukup lama.

Akibatnya, rupiah seakan kehilangan arah kala pasar dibuka kembali.

Pasar valas baru dibuka sehari setelah pasar saham yaitu 21 Juni. Begitu dibuka, rupiah langsung ditutup melemah 1,24%. Akhir pekan lalu, rupiah mampu menguat 0,16% sehingga secara mingguan rupiah masih terdepresiasi 1,08%.

Rupiah yang melemah membuat berinvestasi di instrumen berbasis mata uang ini menjadi kurang menguntungkan, terutama bagi investor asing.

Akibatnya, investor asing cenderung keluar dari pasar saham Indonesia. Dalam tiga hari perdagangan pekan lalu, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp 3,72 triliun.

Sumber : Detik