PT Best Profit Futures Surabaya

Antam Bangun smelter untuk Freeport, swasta kecewa

BEST PROFIT FUTURES – PT Indosmelt dan PT Nusantantara Smelting selaku pengembang pembangunan smelter yang bermitra dengan

PT Freeport Indonesia menyayangkan sikap pemerintah yang dianggap tidak menjalankan fungsinya sebagai regulator yang baik.

Kedua perusahan ini malah condong menyebut pemerintah sebagai player dalam pengelolaan smelter. “Kami menyayangkan pemerintah

yang awalnya jadi regulator tetapi malah jadi player juga,” ujar Natsir Mansyur, Presiden Direktur PT Indosmelt di Jakarta, Rabu (14/5).

Dua perusahan tersebut merasa kecewa karena hadirnya PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang mengikat kerjasama dengan Freeport yang difasilitasi oleh pemerintah.

Menurut Juangga Mangasi, Direktur PT Nusantara Smelting, pihak yang berhak untuk bekerjasama dengan Freeport untuk membangun smelter adalah PT Indosmelt dan PT Nusantara Smelting. (Best Profit Futures)

“Sebelum 10 Januari kami sudah tanda tangani perjanjian, dan Pemerintah setuju, kami tanda tangan. Sebulan setelah agreement itu,

muncul PT Aneka tambang untuk bergabung dengan Freeport yang hanya berdasarkan kerjasama,” katanya.

Atas masuknya Antam dalam pengembangan smelter, maka PT Indosmelt dan PT Nusantara Smelting tidak lagi beroperasi sehingga merasa

dirugikan karena sudah melakukan pembebasan lahan, membayar teknologi dan vendor-vendor proyek yang mencapai biaya Rp 250 miliar.

Dua perusahaan ini berharap pemerintah bertindak tegas dan pintar dalam menangani masalah ini. Mereka juga menghimbau agar pemerintah

kembali ke jalan yang benar dengan menjadi regulator yang baik. (Best Profit Futures)

“Kalau pemerintah smart, ini bisa di atasi. Coba tanya progres smelter setelah 10 januari? Nggak ada.

Pemerintah harus kembali menjadi regulator yang baik,” tandasnya. (Yoga Sukmana) (Best Profit Futures)

Minyak rebound dari penutupan terendah dalam delapan minggu karena OPEC mengatakan membuat upaya diplomatik terakhir menuju mengamankan kesepakatan untuk membatasi produksi dan menstabilkan harga.

Minyak berjangka naik sebanyak 2,2 persen di New York setelah jatuh 4,3 persen pada tiga sesi sebelumnya. Qatar, Aljazair dan Venezuela

memimpin mendesak untuk menyelesaikan kesepakatan, sementara Arab Saudi, Irak dan Iran telah berselisih mengenai bagaimana

membagi pemotongan hasil yang disepakati pada pertemuan bulan September di Algiers, menurut sebuah delegasi yang akrab dengan pembicaraan.

Cadangan minyak mentah AS diperkirakan akan menguat untuk minggu ketiga, menurut survei Bloomberg sebelum data dari pemerintah, hari Rabu.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember naik sebanyak 94 sen menjadi $ 44,26 per barel di New York Mercantile Exchange,

dan berada di $ 44,11 pada pukul 13:56 siang di Hong Kong. Kontrak WTI turun 9 sen menjadi $ 43,32 pada hari Senin, penutupan terendah sejak 19 September.

Total volume perdagangan sekitar 86 persen di atas rata-rata 100-hari. Harga WTI turun 1,5 persen pada pekan lalu.

Minyak Brent untuk pengiriman Januari naik sebanyak 85 sen, atau 1,9 persen, ke $ 45,28 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Kontrak Brent turun 32 sen menjadi $ 44,43 pada hari Senin, penutupan terendah sejak 10 Agustus. Minyak acuan global untuk pengiriman Januari diperdagangkan lebih besar 42 sen dari WTI.

Sumber dari industri.kontan.co.id