PT Best Profit Futures Surabaya

Aliansi Masyarakat Melawan Securitas Desak Transparasi OJK

Best Profit Futures – Aliansi Masyarakat Melawan Securitas mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebagai lembaga pengawas lembaga keuangan non bank bersikap terbuka dan transparan dan melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

Desakan itu disampaikan Koordinator Aliansi Masyarakat Melawan Securitas, Indra Harsaputra menanggapi kasus wan prestasi yang dilakukan oleh Brent Securitas terhadap para nasabahnya sejak Maret 2014 lalu.

“Kasus Brent Securitas ini menunjukkan masih lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh OJK.

Jika sebagai lembaga pengawasan tidak bisa bekerja dalam melindungi kepentingan nasabah dan masyarakat maka dikuatirkan akan menurunkan kepercayaan investor,

“ katanya kepada wartawan. (Best Profit Futures)

Indra mengatakan tujuan dibentuknya OJK, selain mendorong kegiatan sektor jasa keuangan agar terselenggara secara teratur, adil, transparan dan akuntabel.

Mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, juga melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

“Pihak Brent sendiri berjanji akan membayar seluruh kewajibannya kepada nasabahnya secara akta notaris, akan tetapi hingga kini nasabah tidak mendapatkan haknya,

termasuk informasi dari OJK mengenai tanggung jawab Brent yang sudah melakukan wan prestasi, “  katanya. (Best Profit Futures)

Seperti diketahui  nama Brent Securitas bukanlah perusahaan baru yang bergerak di bidang investasi. Boleh dibilang bahwa perusahaan ini sudahlah kawak. Brent didirikan tahun 1991 oleh perseroan milik

Bank PDFCI (Private Development Finance Corporation Indonesia) didirikan di Jakarta dengan nama PT.

PDFCI Securities, yang kemudian berubah nama menjadi PT. Brent Securities pada tahun 2003.

Sebagai perusahaan terpercaya sebagai investment bank, menyediakan layanan pedagang perantara efek (brokerage), penjamin emisi efek (underwriting), penasihat keuangan (financial advisory),

dan pengelolaan investasi yang terpadu, Brent telah mendapatkan izin usaha sebagai Pedagang Perantara Efek melalui Keputusan Ketua BAPEPAM No. KEP-19/PM/1992 tahun 1992,

kemudian sebagai Penjamin Emisi Efek melalui Keputusan Ketua BAPEPAM No. KEP-15/PM/1992 tahun 1992,

dan sebagai Manajer Investasi yakni PT. Brent Asset Management melalui Keputusan Ketua BAPEPAM – LK No. 01/PM/MI/2005 pada tanggal 17 Januari 2005.(Best Profit Futures)

Brent Securitas, yang mempunyai beberapa perusahaaan afiliasi seperti PT Lombok Energi, PT Mineral Nova, PT Leyand

Internasional Tbk dan beberapa perusahaan lainnya  juga tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia.

Pada tanggal 5 Maret 2014, Direktur Utama PT Brent Ventura (yang bertindak sebagai penerbit produk-produk investasi) Ferry Lie dan Yandi Suratna Gondoprawiro,

selaku pemegang saham sebanyak 40.000 lembar saham di PT Brent Ventura, pemegang saham 50 persen Brent Managemen Investasi

(perusahaan yang bergerak dibidang Manajer Investasi yang telah mendapat izin dari Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No : KEP-19/D.04/2013  tanggal 16 Mei 2013)

dan juga Direktur Utama Brent Securitas menerbitkan surat yang ditujukan kepada nasabah mengenai informasi keterlambatan pencairan Medium Term Note (surat hutang berjangka).(Best Profit Futures)

Selain membayarkan pokok, Pihak PT Brent Securitas akan membayarkan bunga keterlambatan. Namun hingga kini, pihak Brent Securitas belum membayarkan kewajiban itu. Padahal beberapa nasabah sudah bertemu dengan Kepala Cabang Brent Securitas Herry Tjandra di kantor Brent Securitas Cabang Surabaya di Hotel Bumi Surabaya, tetapi pihak Brent selalu menutupi informasi yang ada. Nasabah “dipaksa” menandatangai perjanjian program restrukturisasi MTN oleh Brent. (Best Profit Futures)

Tidak hanya itu, nasabah juga bertemu dengan Direktur Utama perseroan, Juita Nuryasari Hamdani di Jakarta. Dalam pertemuan itu, Juita menyatakan adanya indikasi konspirasi dari pimpinan Brent melawan hukum. Dalam perbincangan yang direkam secara diam-diam itu, Juita menyatakan indikasi perlawanan hukum yang dimaksud ialah upaya menghilangkan jejak dan bukti serta membawa kabur seluruh aset Brent berserta dana seluruh nasabah senilai Rp 1,7 triliun.

Dalam rekaman itu pula, Juita memiliki sejumlah bukti berupa transaksi perbankan dari nama perusahaan ke nama pribadi.(Best Profit Futures)

Sumber dari http://beritajatim.com