PT Best Profit Futures Surabaya

10 Sektor Tumbang, IHSG Berakhir di Zona Merah

Best Profit
Best Profit Futures – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis pekan ini. Aksi jual investor asing menjadi salah satu penyebab pelemahan IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham, Kamis (1/9/2016), IHSG turun 51,53 poin atau 0,96 persen ke level 5.334,54. Indeks saham LQ45 juga turun 0,99 persen ke level 915,77. Seluruh indeks saham acuan melemah.

Ada sebanyak 219 saham berada di zona merah sehingga menekan IHSG. Sedangkan 89 saham menguat dan 79 saham lainnya diam di tempat.

IHSG sempat berada di level tertinggi 5.369,51 dan terendah 5.320,08. Transaksi perdagangan saham juga cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 253.436 kali dengan volume perdagangan 6,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham sekitar Rp 5,6 triliun.

Secara sektoral, 10 sektor saham melemah. Sektor saham infrastruktur turun 1,66 persen, dan mencatatkan pelemahan terbesar. Disusul sektor saham perkebunan turun 1,45 persen dan sektor saham konstruksi melemah 1,54 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham GDST naik 32,98 persen ke level Rp 125 per saham, saham JKSW menanjak 21,43 persen ke level Rp 68 per saham, dan saham JPRS mendaki 20 persen ke level Rp 174 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham LMPI merosot 10 persen ke level Rp 153 per saham, saham LMSH tergelincir 10 persen ke level Rp 540 per saham, dan saham SUPR susut 10 persen ke level Rp 7.200 per saham.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menjelaskan, salah penekan indeks pada perdagangan kali ini adalah aksi jual yang dilakukan oleh pemodal asing.

Aksi jual ini telah dilakukan sejak kemarin. Namun memang pada perdagangan kemarin IHSG masih mampu bertahan di zona hijau.

Selain itu, bursa global juga masih menjadi faktor lain yang menekan IHSG. “Harga minyak yang turun tekan bursa global,” jelas dia.

Selain itu 6 Alasan yang Membuat Bisnis Online AndaTersendat

Berjualan di toko online memang sedang marak dan jadi primadona dalam berbisnis, tapi bukan berarti omzet yang didapat akan stabil terus. Penurunan. bisa saja terjadi seperti halnya toko offline yang sedang sepi kondisi pembeli.

Selain karena persaingan pasar yang ketat, ternyata faktor dari diri penjual juga sangat menentukan apakah customer akan kembali lagi atau melakukan repeat order. Kalau sudah begitu Anda harus menelusuri penyebab kenapa itu bisa terjadi dan dapat segera memperbaikinya.

Sumber : liputan6.com